Album ReviewsFeaturedNew ReleasesNewsReviews

The New Abnormal, Belajar Menerima Kembali The Strokes.

Saya belum pernah mengunjungi kota New York, praktis bagaimana bayangan saya tentang kota ini hanya sekelumit melalui film seperti “Taxi Driver” arahan Martin Scorsese tahun 1976 untuk melihat bagaimana “bajingan”nya kota ini. Terkait skena musik, membaca “Meet Me In The Bathroom” karya  Lizzy Goodman pun menjadi referensi membayangkan keliaran kota New York. Salah satu produk penanda zaman asal kota ini adalah kebangkitan kembali genre musik rock di awal dekade 2000an. Dan penyelamat itu bernama .

Album debut The Strokes  “Is This It” (2001) hingga hari ini kerap terselip dalam deretan album-album terbaik sepanjang masa berbagai versi. Album ini dianggap berhasil merekam keadaan kota New York setelah kejadian 9/11. Bahkan salah satu lagu berjudul “New York City Cops” pun sempat disensor dari daftar lagu karena waktu rilis masih berdekatan dengan tragedi menara kembar WTC tersebut.

Sedemikian agungnya album debut band berpersonil awet yang terdiri dari Julian Casablancas (vokal), Albert Hammond Jr (gitar), Nick Valensi (gitar), Nikolai Fraiture (bass), dan Fabrizio Moretti (drum) sepanjang karir mereka kerap dibebankan untuk kembali mengulang kesuksesan “Is This It”. Sebagai orang yang mendengarkan “Last Nite” pertama kali melalui media kebudayaan Amerika, MTV, saya yang masih dibangku SMP kala itu hanya bisa terpana melihat tingkah polah kelima personil The Strokes dalam video klip lagu tersebut. 

The Strokes yang berasal dari kota New York telah mengubah hidup saya sejak saat itu. Seorang anak SMP di sebuah Kabupaten berjarak 100 km dari ibukota provinsi pesisir barat Sumatera. Album-album mereka setelah itu tetap saya ikuti, hingga berbagai macam proyek pribadi para personil band yang sempat memutuskan untuk vakum ini. Saking spesialnya, hingga saat ini saya menambahkan Julian pada tanda tangan saya. Yap! Masukkan saya dalam kelompok fans garis keras.

Maka ketika berkali-kali kritik dilepaskan berbagai media terhadap mereka, saya bergeming. Dan setelah 7 tahun tanpa album penuh, tahun ini mereka kembali dengan album baru berjudul The New Abnormal yang diproduseri oleh Rick Rubin. Dengan gambar sampul dari karya Jean-Michel Basquiat berjudul “Bird On Money” (1981) album ini menarik perhatian saya. 

Kondisi The Strokes dalam “The New Abnormal” sudah jauh berbeda tentunya dibanding 20 tahun lalu. Simak saja sesi dengar album ini yang mereka lakukan secara virtual melalui sebuah episode vlog youtube berjudul “5guys talking about things they know nothing about”. Mereka tidak urakan sebagaimana cerita Lizzy dalam buku penuh kontroversi “Meet Me In The Bathroom” yang saya sebutkan di awal tadi. Mereka masih canggung yang pasti sebagaimana kita lihat dalam berbagai penampilan live tanpa ba-bi-bu basa basi. Namun secara keseluruhan kita bisa lihat mereka sudah sangat nyaman dan tentu terlihat tua (terutama Nick dalam vlog itu). 

Setelah menyelesaikan kontrak dengan label RCA, album keenam ini telah dibawah naungan Cult Records (milik Julian Casablancas) meski masih bekerja sama dengan RCA. Ada kenyamanan yang bisa kita rasakan dalam pengerjaan album ini, dan tentu tangan dingin Rick Rubin juga memegang peranan penting

Memang ada upaya untuk mengembalikan perasaan kita kembali pada debut album “Is This It” jika mendengarkan “The New Abnormal”. Pada bagian akhir trek pembuka “The Adults Are Talking” kita bisa mendengarkan Julian berseru “So let’s go back to the old key, old tempo, everything”. Sebuah pernyataan yang menurut saya penting untuk mengetahui arah album ini kemana.

Walaupun single pertama “At the Door” awalnya sempat membuat kita semua menduga-duga album ini akan penuh eksperimentasi lagi kah? Keberanian The Strokes tampak dengan menjadikan lagu ini sebagai single pertama. Sebuah nomor balada (ala mereka) tentang kesendirian dan kehampaan. Dominasi alat musik elektronik sempat membuat was-was, kendati berhasil membangun emosi yang murung.  

Tapi single berikutnya seperti “Bad Decisions” membuyarkan kekhawatiran. Drum Fabrizio “Fab” Moretti terdengar bertenaga sepanjang lagu, ini penting, karna jujur ia adalah personil yang paling saya khawatirkan mati duluan karena mabuk tak berkesudahan. Jika “At the Doord” adalah The Strokes beberapa tahun belakangan yang begitu elektronis, maka “Bad Decisions” adalah bentuk mengingatkan kembali, bahwa mereka bisa seperti dulu diera awal. Melodius, berisik dan urakan. 

Nah, perpaduan kedua era itu terdengar pada single ketiga “Brooklyn Bridge to Chorus” Sound 80an melalui synthetiser dan gitar yang mendominasi secara akur, sembari mendengarkan Julian mengeluh “And the ’80s bands? Oh, where did they go?”. Ya, kalian juga kemana aja pak.

Jika kita berbicara tentang kecepatan, album ini sebenarnya tidak dalam kecepatan yang tinggi. Selain “At the Door” sebagai trek balada, juga ada “Selfless” yang mendayu-dayu. Bahkan bersungguh-sungguh dalam verse “How did this fit in your story?”. “Selfless” bercerita bagaimana cinta dan hubungan dapat membuat seseorang menjadi tak lagi memikirkan diri sendiri. Tentu kisah seperti ini adalah kisah-kisah semua umat manusia.

Sebagai sebuah kebaruan maka “Eternal Summer” pun menjadi sensasi yang baru dengan suara falset Julian, sebelum akhirnya meracau “I can’t believe it / This is the eleventh hour / Psychedelic / Life is such a funny journey”. Dominasi lagu dengan tempo yang lambat sesungguhnya akan menjadi catatan tersendiri. Tapi dalam usia yang tak lagi muda, kecepatan tak lagi relevan untuk menjadi kejaran utama. Simak saja 2 lagu terakhir “Not the Same Anymore” dan “Ode to the Mets” yang bisa membuat anda melewatkan sahur jika anda dengarkan di sepertiga malam.

The Strokes tak pernah sama sejak debut album dahulu kala. Kita harus berhenti menuntut mereka kembali mengulang era itu. Siapa yang bisa? Mereka dikutuk untuk kembali membawa kita pada era New York dan mabuk tak berkesudahan. Dalam “Why Are Sundays So Depressing”, mereka sudah cukup reflektif “I want your time (Time, time) / Don’t ask me questions (Questions, questions) / That you don’t want (Want, want) / The answers to (To, to)”.

Mendengarkan album “The New Abnormal” adalah upaya untuk kembali menerima The Strokes ke pangkuan kita. Ke salah satu sudut hati seseorang yang dulunya pertama kali mendengarkan mereka di usia belia. The Strokes telah tumbuh dewasa bersama kita semua, dan melalui album ini kita hanya perlu membuka diri kembali. Menerima mereka kembali.

(VRD/ABD)

The New Abnormal, Belajar Menerima Kembali The Strokes. 1

The Strokes - The New Abnormal (Album Review)

The Strokes - The New Abnormal (Album Review)

Nama band : The Strokes Label : Cult Records Tanggal Rilis : 10 April 2020

User Rating: 4.25 ( 1 votes)
Tags
Show More

Noverdy Putra

Peternak gagasan, tinggal di Padang.

Related Articles

Back to top button
Close