Kalau kamu pernah bertanya apa itu shoegaze, kemungkinan besar kamu baru saja mendengar sebuah lagu yang gitarnya terdengar seperti kabut tebal dan vokalnya seperti dibisikkan dari ruangan sebelah. Kamu menaikkan volume, berharap liriknya jadi jelas. Ternyata tidak. Selamat, kamu sudah resmi masuk ke wilayah musik shoegaze.
Kami sudah punya panduan dream pop yang membahas kabut sejenis dari Cocteau Twins sampai generasi kamar tidur hari ini. Tulisan ini mengambil satu lorong saja dari rumah besar itu, lorong yang paling bising. Sejarah shoegaze secara singkat dulu, lalu sepuluh album shoegaze yang bisa jadi pintu masuk, diurutkan menurut tahun rilis.
Apa Itu Shoegaze, dan Kenapa Sepatu Ikut Dibawa-bawa
Secara bunyi, shoegaze adalah rock gitar yang memilih tenggelam alih-alih berteriak. Gitarnya diumpankan ke deretan pedal efek sampai distorsi, feedback, dan reverb melebur jadi satu dinding, sementara vokal sengaja diletakkan di bawah dinding itu, bukan di depannya. Melodinya sering manis, bahkan pop sekali. Hanya saja ia disajikan di balik tirai bunyi yang membuat kita harus mendekat untuk mencicipinya. Ada keindahan yang justru lahir dari ketidakjelasan itu, dan kepala kita biasanya sudah mengangguk pelan sebelum sempat paham liriknya tentang apa.
Namanya sendiri lahir dari ejekan. Pada 1991, Andy Ross dari Food Records, yang juga menulis untuk majalah Sounds, menonton konser Lush di The Venue, New Cross. Di sana ia memperhatikan Russell Yates, vokalis Moose, yang terus menunduk, lalu menjulukinya “shoegazer”. Padahal Yates sedang membaca lembar lirik yang ia taruh di lantai. Kecelakaan kecil itu menempel selamanya. Penyebutan tertulis paling awal yang tercatat muncul di NME pada 25 Mei 1991, ketika Steve Lamacq menyebut Slowdive sebagai “shoe-gazers”.
Beberapa minggu kemudian Steve Sutherland dari Melody Maker mengulas konser Moose di Camden dan menjuluki gerombolan ini “The Scene That Celebrates Itself”, karena penontonnya dipenuhi personel band sejenis, termasuk Damon Albarn, Miki Berenyi, dan Mark Gardener. Maksud awalnya memuji. Pers musik Inggris kemudian memakainya untuk mencibir. Versi lokalnya kira-kira gigs di ruang sempit yang penontonnya kebanyakan anak band yang besok giliran manggung. Saling-tonton-saling-dukung.
Jadi kalau ditanya apa itu shoegaze dalam satu kalimat, jawabannya kira-kira begini. Lagu pop yang dimasak dengan api besar, lalu disajikan dengan kepala menunduk.

Sejarah Shoegaze, dari Kabut 1985 sampai Disapu Britpop
Akar sejarah shoegaze bisa ditarik ke pertengahan 80-an. The Jesus and Mary Chain menyiram melodi pop dengan feedback di Psychocandy, Cocteau Twins membangun gitar yang mengawang, dan My Bloody Valentine meracik keduanya jadi sesuatu yang lebih tebal. Dua label Inggris jadi dapur utamanya, yaitu Creation Records dan 4AD. Gelombang pertamanya diisi Ride, Slowdive, Chapterhouse, Lush, Swervedriver, dan Moose, yang banyak berkumpul di London dan Lembah Thames.
Puncaknya datang pada November 1991 ketika Loveless milik My Bloody Valentine rilis. Ironisnya, dua bulan sebelumnya Nirvana sudah melepas Nevermind, dan perhatian dunia pelan-pelan bergeser ke grunge. Pada Maret 1993 Suede merilis album debutnya, dan Britpop menguasai panggung Inggris pada 1994. Band yang suka menunduk kalah pamor oleh band yang suka berdiri di atas monitor sambil membusungkan dada.
Tapi kabut tidak pernah benar-benar pergi. Awal 2000-an melahirkan apa yang disebut nu gaze lewat My Vitriol, The Radio Dept., dan M83, dan film Lost in Translation (2003) ikut memperkenalkan bunyi ini ke generasi baru. Reuni pun berdatangan. My Bloody Valentine kembali pada 2007, Slowdive pada 2014, Ride pada 2015, dan Lush pada 2016. Slowdive bahkan masuk lineup Laneway Festival 2018 di Singapura yang dulu kami tulis dengan mata berbinar dan dompet menangis.
Di atas adalah Star Roving, lagu pertama Slowdive dalam 22 tahun, yang dikabarkan NPR pada Januari 2017. Ia terdengar seperti band yang tidak pernah pergi.
Hari ini tag shoegaze di ParaPop rutin terisi rilisan baru, dari MOAB dengan Too Late yang langsung membuka lagu dengan dengungan distorsi, sampai Glass Rabbit dengan Damn Shame yang gitarnya sekilas mengingatkan pada My Bloody Valentine. Bahkan Supreme pernah menempelkan nama itu di koleksi musim semi 2020 mereka. Genre yang dulu diejek karena menunduk, kini dicetak di kaus mahal. Saya curiga sebagian besar pendengar musik shoegaze hari ini juga masih menunduk, bedanya bukan ke sepatu, tapi ke layar ponsel, mencari tahu lagu apa yang barusan lewat.
10 Album Shoegaze Pintu Masuk, Diurutkan Menurut Tahun
Sepuluh album shoegaze di bawah ini bukan peringkat. Anggap saja menu cicip, dari bumbu dasar sampai olahan yang lebih baru.
The Jesus and Mary Chain dengan Psychocandy (1985, Blanco y Negro). Secara teknis ia lahir sebelum istilahnya ada, tapi hampir semua band di daftar ini berutang padanya. Melodi pop permen karet disiram feedback dan semburan bising putih, dan Just Like Honey tetap jadi lagu pembuka yang manisnya bikin curiga.
Pale Saints dengan The Comforts of Madness (1990, 4AD). Album debut yang direkam di Blackwing Studios, London, dengan John Fryer dan Gil Norton bergantian memegang produksi. NME saat itu menyebutnya kolase melodi dan gesekan yang berlapis-lapis, dan salah satu nomor terbaiknya, Fell from the Sun, justru ditulis oleh tamu, Kendra Smith.
Ride dengan Nowhere (1990, Creation). Direkam ketika para personelnya baru berumur 18 sampai 20 tahun, sering di sesi larut malam yang menurut Mark Gardener melahirkan rasa gelap dan terasing itu. Unit efek Roland GP-16 ikut menumpuk lapisan gitarnya. Mulailah dari Vapour Trail, lalu pandangi sampulnya, ombak raksasa jepretan Warren Bolster yang belum sempat pecah.
Chapterhouse dengan Whirlpool (1991, Dedicated). Debut yang rilis 29 April 1991 ini sempat naik ke posisi 23 tangga album Inggris, ditopang single Pearl. Bukti bahwa di tahun-tahun itu kabut pun bisa naik ke tangga lagu.
My Bloody Valentine dengan Loveless (1991, Creation). Album shoegaze yang paling sering disebut, dan wajar. Kevin Shields memakai teknik yang ia sebut glide guitar, menekuk senar sedikit keluar dan masuk nada lewat tuas tremolo, sehingga gitarnya terdengar seperti meleleh. Proses rekamannya legendaris, hampir tiga tahun di sembilan belas studio, dengan biaya yang sampai sekarang masih diperdebatkan. Satu hal yang tidak diperdebatkan, bulu kuduk tetap berdiri setiap kali Only Shallow dibuka.
Lush dengan Spooky (1992, 4AD). Diproduseri Robin Guthrie dari Cocteau Twins, sehingga hubungan shoegaze dengan Cocteau Twins di sini bukan lagi sekadar pengaruh, tapi campur tangan langsung. Album debut ini melahirkan Nothing Natural, For Love, dan Superblast!, lalu masuk sepuluh besar tangga album Inggris.
Slowdive dengan Souvlaki (1993, Creation). Saat rilis, sambutannya dingin dan ia hanya mentok di posisi 51 tangga album Inggris. Puluhan tahun kemudian ia justru dianggap salah satu pernyataan paling utuh dari genre ini. Brian Eno ikut mengisi keyboard dan olahan bunyi di Sing dan Here She Comes.
Swervedriver dengan Mezcal Head (1993, Creation). Sisi shoegaze yang paling dekat dengan rock alternatif, dengan bumbu grunge yang tidak disembunyikan. Duel jadi single paling sukses mereka di Inggris. Cocok untuk kamu yang merasa shoegaze terlalu mengantuk.
Slowdive dengan Slowdive (2017, Dead Oceans). Album pertama mereka dalam 22 tahun sejak Pygmalion, dan bukti bahwa reuni tidak harus berarti mengulang lagu lama di panggung festival. Star Roving dan Sugar for the Pill jadi dua pintunya.
DIIV dengan Deceiver (2019, Captured Tracks). Album ketiga ini dikerjakan bersama Sonny Diperri, yang pernah bekerja dengan My Bloody Valentine. Bunyinya lebih berat dan lebih gelap dari rilisan DIIV sebelumnya, ditulis setelah vokalis Zachary Cole Smith menjalani pemulihan dari kecanduan. Dengarkan Skin Game dan Blankenship, lalu rasakan bagaimana kabut 1991 bisa berubah jadi asap tebal di 2019.
Sepuluh album shoegaze ini baru pembuka. Kalau sudah ketagihan, kabut yang lebih luas ada di panduan indie rock kami, dan rilisan terbarunya terus mampir di 7 lagu dream pop pilihan September 2026. Lalu kenapa, dari semua kemungkinan, kaus yang dipakai salah satu personel Slowdive di foto pers terbarunya bertuliskan Shoegazer?
(VRD)


