Jika kamu pernah bersumpah berhenti merokok setelah bungkus ini habis, lalu membeli bungkus berikutnya, kamu sudah paham isi Damn Shame. Rasa malu yang tidak membuat kita berhenti. Ia justru membuat kita mengulanginya, lalu malu lagi.
Single ini jadi rilisan pertama Glass Rabbit dalam kurang lebih dua tahun, sekaligus yang pertama bersama drummer baru mereka, Eric Rubalcava. Kuartet asal Portland ini sengaja membelah lagunya jadi dua babak.
Babak pertama nyaris berbisik. Vokal Becky Phillips mengalun tenang dan rapuh, desah napasnya dibiarkan terdengar, murungnya berkabut ala Mazzy Star.
Lalu ia retak.
Bass tebal dan ketukan drum yang rapat masuk berderap cepat, sementara gitar Scott Crawford dan Johnny Pils diracik menumpuk jadi dinding bising yang sekilas mengingatkan pada My Bloody Valentine. Dari shoegaze yang melayang, ia berbelok jadi post-punk yang membakar. Ada tekanan yang dibangun pelan-pelan lalu dijebol begitu saja, dan bulu kuduk kita ikut berdiri tepat di titik patahnya.
Ada gesekan ganjil yang nikmat dikunyah saat aransemennya pecah tanpa aba-aba. Telinga kita dipaksa menelan kontras rasa bersalah yang diulang-ulang, seolah kepala kita baru saja dihantam ombak keruh sehabis melamun di tepi dermaga.
Damn Shame baru bungkus pertama. Bungkus berikutnya, album Water Sleep Machines, dijadwalkan menyusul pertengahan 2027.
Glass Rabbit Profile
- www.glassrabbitmusic.com
- www.facebook.com
- open.spotify.com
- glassrabbit.bandcamp.com
- www.youtube.com
- www.instagram.com
Untuk telinga yang mendambakan letupan distorsi tajam dan tempo beringas, simak ulasan Shansylvania – Haunted Hotel bersama arsip ulasan The Mack Brothers – Sleepless in Seattle.



