Di menit-menit awal, “What It’s Like To Die” dari The Sizzos langsung nyeret pendengarnya ke dalam atmosfer yang berat dan gelap. Gitar distorsi, beat yang stabil tapi menghantui, dan synth tipis di latar belakang bikin suasana terasa seperti badai yang pelan-pelan datang mendekat.
Vokalnya disusun agak malas dan tetap terasa mentah. Ada tekanan emosional yang nempel, apalagi pas bagian reff makin intens seolah semua perasaan yang ditahan akhirnya dilepas sekaligus.
Secara lirik, lagu ini nggak main aman. Kalimat seperti “Jaw flung wide but there is no sound” atau “Blood turns black” bukan sekadar simbolik. Rasanya lebih kayak potongan mimpi buruk yang pernah dialami, lalu dikemas dengan cukup jujur tanpa dibagus-bagusin.
Emosi yang dibawa nggak datar. Dari bingung, marah, sampe nyaris pasrah, semuanya disajikan bertahap tapi konsisten. Nggak ada usaha buat sok kuat, justru karena itu lagu ini terasa lebih dekat.
“What It’s Like To Die” bukan jenis lagu buat didengar sekali terus dilupakan. Dia nempel, nyisain bekas. Bukan karena melodinya saja, tapi karena keberaniannya untuk ngomongin hal yang biasanya disimpan rapat-rapat.



