FeaturedNew ReleasesNews

The Avalanches No Bad Memories, 31 Trek Jeda Iklan yang Tak Ingin Kita Lewati

Album The Avalanches No Bad Memories resmi keluar Jumat, 16 Oktober 2026, dan isinya tidak main-main. Ada 31 trek dalam 52 menit, sebagaimana dicatat Billboard, lengkap dengan deretan tamu yang bikin geleng-geleng kepala. Karen O, Jamie xx, John Glacier, Barry Can’t Swim, Rivers Cuomo, sampai Mike Patton ikut menyumbang.

Ini album baru The Avalanches yang keempat, unit plunderphonics asal Australia. Jika kamu penggemar The Avalanches, kamu pasti tahu bahwa angka empat ini dulu terasa mustahil. Debut mereka, Since I Left You (2000), dijahit dari ribuan sampel piringan hitam, mulai dari Françoise Hardy, Sérgio Mendes, Raekwon, sampai Madonna. Setelah itu mereka menghilang 16 tahun sebelum kembali dengan Wildflower, yang langsung menduduki puncak tangga album ARIA dan sempat masuk daftar 10 album yang terlewatkan di tahun 2016 versi kami. Album ketiga, We Will Always Love You (2020), datang jauh lebih cepat dan memenangi Australian Music Prize.

Kini formasinya berisi dua anggota asli, Robbie Chater dan Tony Di Blasi, ditambah rekrutan baru Andy Szekeres.

“We’re beyond grateful for the endless enthusiasm and love our music receives after all this time,” tulis mereka dalam pernyataan saat album dirilis.

The Avalanches No Bad Memories, Jeda Iklan yang Tak Ingin Kita Lewati

Kalau tiga album pertama mengajak kita berkelana ke mana-mana, kali ini mereka memilih diam di rumah. Menurut The Quietus, No Bad Memories adalah satire atas cara merek dan teknologi menempel di hidup kita. Bahannya iklan palsu yang dibawakan Mike Patton dan aktor Haley Joel Osment, denting komputer saat dinyalakan, sampai derak pemutar video lawas. Ada keisengan yang sengaja dirawat sepanjang album, dan lagunya sering dipotong interlude pendek yang menurut Paste terdengar seperti jeda iklan. Di Break Out Corporate Tag, misalnya, terselip iklan Neutrogena Emma Roberts dengan nada yang sedikit diturunkan.

Rasanya seperti menunggu sinetron jam tujuh malam kembali setelah jeda iklan yang kepanjangan.

Racikannya tetap padat bumbu. Paste mencatat campuran disko, garage rock, hip hop, drum and bass, dan potong-sambung sampel ala J Dilla. Karen O menyumbang vokal berbisik di Blue Shadows yang murung, Rivers Cuomo membawa pop galaksi yang melaju di All The Time In The World, dan Jamie xx menebar synth yang berdesis. Pendiri Yellow Magic Orchestra, Haruomi Hosono, membangun klub jazz fiksi ilmiah di The Pavements Light. John Glacier dipasangkan dengan produser footwork asal Tunisia Khadija Al Hanafi di Far Away, balada drum and bass yang polos. Lalu ada Like Clockwork/Hit By Traffic yang mencampur Jersey club dengan suara burung gagak, yang oleh Paste diibaratkan unggahan iseng TikTok yang menjelma lagu.

Puncaknya, menurut The Quietus, datang dari kolaborasi dengan Barry Can’t Swim. Magic Wand membangun reff dari ad lib penyanyi disko 70-an Renee Acker, sementara Our Love Is Alive memotong-motong rekaman komponis Suzanne Ciani yang sedang mengajar musik di Sesame Street. Dua nomor ini disebut sebagai puncak tangan-di-udara. Paste bahkan menganggap Our Love Is Alive sebagai tesis kecil album ini, karena ia merenungkan teknologi sebagai alat berimajinasi.

Tidak semua kritikus menelannya bulat-bulat. The Quietus mengakui tidak ada metode yang benar-benar baru di sini, walau hal itu memang sudah jadi bagian dari harga tiketnya. Paste, yang memberi nilai B, menganggap beberapa selingan seperti Superfun! TV Spot agak norak dan terlalu menekankan poinnya. Variety justru menyebutnya salah satu album yang terdengar paling bahagia tahun ini.

Dari Since I Left You ke Disket Berkaki

Sampulnya sendiri sudah cukup menjelaskan suasana. Sebuah iPod dan sebuah disket, lengkap dengan tangan dan kaki, berdiri berangkulan. Variety sampai berkelakar bahwa kalau mereka bisa, Clippy si asisten penjepit kertas Microsoft pasti ikut jadi bintang tamu.

The Avalanches No Bad Memories, karakter iPod dan disket dari sampul album
Artwork No Bad Memories / The Avalanches

Paste membaca serpihan nostalgia di The Avalanches No Bad Memories sebagai tandingan bagi fantasi palsu yang dihasilkan AI generatif. Jingle iklan dan teknologi analog dipakai untuk mengingatkan bahwa mesin bisa jadi alat berimajinasi, bukan alat menguasai. Saya terus terang suka cara berpikir itu, karena datang dari band yang kariernya dibangun dari memungut bunyi orang lain.

Album baru The Avalanches ini juga ditemani video I Give Everything I Have 2 U bersama Loaded Honey. Haley Joel Osment jadi bintangnya, menyetir menembus lalu lintas Shibuya di Tokyo dalam satu kali ambil gambar dengan kamera besar terikat di kaca depan mobilnya. Pengambilan gambarnya digarap sinematografer Andrés Arochi. “A one-take scenario with Haley trying to navigate the Shibuya traffic, a huge camera strapped to the outside of his windshield is not a bad memory indeed!” kata The Avalanches.

Seiring rilisnya The Avalanches No Bad Memories, Billboard mengabarkan band ini akan tur ke Amerika Serikat, Eropa daratan, Inggris, dan Asia, lalu pulang untuk tur Australia awal 2027. Mereka bukan nama asing di panggung Asia, karena pernah masuk daftar penampil Fuji Rock Festival 2017. Arsip kabar mereka lainnya ada di halaman The Avalanches.

Dua puluh enam tahun setelah Since I Left You, mereka masih asyik mengaduk-aduk tumpukan barang bekas. Bedanya, kali ini yang dipungut adalah jingle, bunyi komputer, dan disket berdebu, isi laci yang mungkin juga masih kamu simpan di rumah.

No Bad Memories milik The Avalanches sudah rilis 16 Oktober 2026, berisi 31 trek dengan durasi 52 menit.

Show More

paraPOP

Parapop Parentheses Preact Pop News Media Outlet for Alternative/Indie In Indonesia Contact us: info@parapop.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Related Articles

Back to top button