Begitu Lost Dog dari Taylor Janzen mulai, saya langsung merasakan ledakan emosi yang jujur banget, sebuah perpaduan antara kesedihan dan amarah yang meledak-ledak. Ada dentuman musik yang enerjik tapi juga melankolis, seolah dia sedang menuangkan semua isi hatinya.
Taylor sendiri bilang kalau lagu ini adalah jeritan batinnya di tengah quarter life crisis. Dia lagi nyari versi dirinya yang optimis dan polos, yang kayaknya udah lari entah ke mana. I’m searching for the lost dog ,Every night since then, I’m searching for the lost dog, Again and again and again and again. Lirik itu terasa banget keputusasaan dan kerinduan akan diri yang hilang.
Yang bikin lagu ini kuat adalah kejujuran Taylor. Ini bukan sekadar lagu, tapi kayak pemakaman untuk diri mudanya, di mana dia bisa teriak, nangis, ngeluh, dan akhirnya ngeluarin semua “tornado” di dadanya jadi sebuah karya seni.
Meskipun isinya berat, ada energi yang bikin kita ikut teriak dan “rock out” bareng dia. Ini rilis independen pertamanya, dan rasanya kayak Taylor Janzen baru aja lahir kembali dengan suara yang lebih lantang dan berani.



