Mendengarkan gesekan biola dan cello yang bersahut-sahut di ruang sunyi selalu punya cara jitu untuk melambatkan waktu. Dari kancah alt-folk, Rachael Sage menelurkan versi telanjang bertajuk Canopy (Acoustic), meracik ulang nomor lama menjadi tembang akustik yang menolak bising.
Ia meluncur tenang dengan tempo lambat yang sangat sabar. Petikan dawai gitar akustik bergulir hangat menopang ketukan hand percussion yang tipis-tipis, memberi alas lapang bagi sayatan biola Kelly Halloran dan resonansi cello Dave Eggar untuk saling membalas nada. Hembusan harmonika Trina Hamlin menyusup lamat-lamat di sela baris, sementara vokal tamu Kristen Ford membalut suara utama Rachael Sage dalam harmoni yang rapat tanpa saling berebut sorotan. Ada keheningan yang nyaman saat aransemennya dibiarkan bernapas lega.
Racikan yang manis dan tidak kebanyakan bumbu.
Kita diajak mengunyah kegelisahan dunia yang sedang koyak tanpa harus dipaksa mendengar kotbah yang garang. “If the world were run by women there would be an end to war”, lantangnya lirih, memilih menaruh harapan di tengah serpihan dendam yang berserakan.
Saya sendiri sempat menimang-nimang apakah pesan perdamaian seluas ini bakal terdengar kelewat muluk di telinga. Nyatanya tembang Canopy (Acoustic) ini justru berhasil memeluk ruang dengar dengan khidmat, membujuk kita memejamkan mata sembari menghela napas panjang hingga gesekan dawai terakhir reda
Rachael Sage Profile
- rachaelsage.com
- www.facebook.com
- mobile.twitter.com
- open.spotify.com
- www.youtube.com
- www.instagram.com
Kejujuran rasa tanpa banyak polesan instrumen rumit mengalir apik dalam ulasan Will Lynde – Playing With Fire serta tembang bersahaja di arsip Natalie Clark – KID.



