Pale Grey kembali hadir lewat single “Nikita”, sebuah perjalanan sonik yang lebih berani dan abstrak dibanding karya-karya sebelumnya. Di lagu ini, mereka melempar kritik tajam terhadap persaingan di dunia seni. Ada nada pahit yang mengalir dari lirik-liriknya, seperti percakapan yang pecah jadi penyesalan.
Sound-nya menjauh dari akar rock mereka yang biasa, masuk ke wilayah elektronik yang dingin dan berlapis. Ketukan seperti dari dunia hip-hop eksperimental, tapi tetap dibalut atmosfer lembut khas Pale Grey.
Ini tentang seseorang yang melihat kebusukan dalam sistem dan akhirnya memutuskan berhenti. Tidak semua orang kuat untuk terus maju, dan kadang menyerah adalah satu-satunya bentuk kejujuran yang tersisa.
Lagu ini seperti potret orang asing yang kita lihat sepintas di kereta atau halte. Kita tak tahu kisahnya, tapi lewat satu tatapan, kita bisa ikut merasa sedih bersamanya. Pale Grey menuliskan realita seperti puisi, dan “Nikita” jadi salah satu bait yang paling getir.


