Ada nuansa personal yang terasa jujur dihidupkan kembali lewat “Daydreamer”, single Marion Sophia Dyrvik yang katanya terinspirasi dari “Linger” milik The Cranberries dan “Unintended” dari Muse.
Vokalnya menawan, melayang dengan rasa yang kuat, seolah mengambang di antara mimpi dan kenyataan tanpa pernah kehilangan kendali. Gitar yang agak serak menambah tekstur yang membawa rasa sedikit dingin, memberi kontras yang pas dengan kehangatan vokalnya, sesuatu yang menjadi ciri khas Marion Sophia dalam memadukan sisi lembut dan emosi yang lebih intens dalam satu lagu.
Narasinya tersaji penuh mimpi, sejalan dengan karakter vokalnya, membuat lagu ini terasa seperti melamun dalam keadaan sadar. Lagu ini awalnya ditulis untuk cerita cinta pertama Larissa Tormey, sebelum Marion Sophia menulis ulang liriknya agar sesuai dengan kisah cintanya sendiri, dan proses itu terasa memberi lapisan emosi tambahan yang membuat lagunya terasa lebih personal.
Lagu ini dibangun dengan intensi yang dalam, dan itu terasa sampai ke pendengarnya, apalagi mengetahui proses rekamannya dilakukan di rumah asap berusia dua ratus tahun milik keluarga Marion Sophia di Norwegia, tempat yang menyimpan energi tenang tersendiri.
Marion Sophia Dyrvik lewat “Daydreamer” menghadirkan lagu yang tidak cukup sekali didengarkan, karena setiap putaran seperti membuka lapisan baru dari mimpi yang sama, yang terus berubah tergantung dari sisi mana kita memilih untuk memasukinya.
Marion Sophia Dyrvik Profile
Bagi telinga yang ingin tenggelam dalam lamunan panjang bernada syahdu, dengarkan ulasan Frannk Whitte – Taste dan karya terdahulu di ulasan Manuka – Antenna.



