Concert

Layar Panggung Terkembang dan Gelombang Cinta di Music Gallery 2018

Sepertinya Dewi Fortuna sedang memihak kepada saya pada bulan ini, bukan karena nomor togel atau pun judi bola saya tembus dan mendapatkan jackpot, bukan itu!  Ialah Music Gallery yang akhirnya mempertemukan saya dengan sederetan musisi lokal maupun internasional yang secara pribadi sedang sering saya dengar dan kagumi karyanya. Mengulangi kesuksesan tahun sebelumnya, di tahun ke 8 ini BSO Band Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia  sepertinya sudah mantap dengan segmentasinya untuk merangkul penikmat musik indie (seperti saya) yang (selalu) haus akan band- band berkonsep “tidak biasa”.

Dua panggung sudah disiapkan, intimate stage yang berada di pelataran parkir terbuka lantai 6 (P6), dan main stage yang terletak di dalam ballroom (P7). Kedua panggung ini tidak hanya berjarak, namun nuansa antara dua panggung ini juga berbeda. Nah, di antara panggung ini, kita akan dipaparkan suasana kota dengan gedung-gedung tinggi. Di atas dua penggung inilah 18 line up akan “baku hempas”, diantaranya: Fletch, The Broto, Eleventwelfth, .Feast, Mondo Gascaro, White Shoes & The Couples Company, Sore,  Lightcraft, Cherry Pugs, Heals, Jason Ranti, Bam Mastro, Danila, OM PMR, The SIGIT, lalu perwakilan internasional Novo Amor  dan Beach Fossils.

 Novo Amor 
Photo By Budi Susanto

Saya akan membahas dua band saja, sebab “tetangga” lain sepertinya sudah membahas band lokal secara keseluruhan dengan baik. Yap, Novo Amor memang menjadi salah satu primadona di helatan Music Gallery kali ini. Karakter suara, sound hangat, dan lirik yang menyentuh  bisa menjadi alasan paling sederhana untuk menyukai karya Ali John Meredith-Lacey dan Ed Tullett beserta kawan-kawan. Atmosfer yang mereka ciptakan berhasil menyihir penonton malam itu, melalui nomor  pertama “Silvery”,  penonton digiring memasuki “dunia” bernuansa alam lewat layar visual belakang panggung. Lagu pertama dan kedua berjalan lancar, hingga lagu ke tiga “Enbody Me”, gitar Ali ngambek pas memasuki intro, para kru segera ambil langkah memperbaiki kerusakan teknis.  Sementara perbaikan, anggota lainnya berinisiatif mengisi keheningan, terlebih pemain violin yang sangat manis berhasil mempertahankan mood (saya) penonton untuk bersabar menunggu, beberapa menit berselang, akhirnya gitar Ali berhasil di bujuk.

Tepuk tangan serta sorakan bergemuruh sebagai tanda dukungan dari penonton, Ali pun tampak lega sambil meneguk air mineral dan  tidak lupa mengucapkan “terima kasih”. Masalah teknis bukan jadi hambatan, mereka kembali mulai mengulang  dari “Embody Me”, di teruskan  “Holland”, “Carry You”, “Faux”, “Alps”, “From Gold”. Dan terkhusus “Anchor”–salah satu lagu dengan cinematograpy terbaik dan paling ramai di tonton dari channel youtube Novo Amor– Ali bermain secara solo sambil bermain keyboard, penonton pun khidmat bernyanyi bersama. “Terraform” dipilih sebagai penutup. Ali sangat bersemangat menceritakan bagaimana lagu itu mengangkat tema tentang para penambang belerang kawah Ijen. Di tengah cerita, terdengar teriakan “who are you” dari kerumunan penonton, seakan-akan Novo Amor sebagai pendatang tidak memiliki keterikatan terhadap kehidupan/kesulitan yang dihadapi penambang. Pun demikian, menurut saya siapa pun berhak untuk peduli dengan kesulitan hidup tanpa memandang asal dan latar belakang. Toh bantuannya nyata, gak tau deh sama yang ngenyek, udah bantu apa aja hehe. Walaupun begitu, Ali dan kawan-kawan tetap lanjut menyelesaikan panggung mereka, penonton pun banyak bersorak “We want more!” namun sayang,  penonton harus puas dengan “Terraform”.

Beach Fossils
Photo By Budi Susanto

Tidak mau kalah, Beach Fossils, kelompok dream pop asal Amerika akhirnya mengokupasi panggung. Penampilan Dustin Payseur dan kawan-kawan memang mengagumkan, tidak hanya dalam rekaman, namun penampilan live mereka juga sangat baik memainkan antusias penonton. “Generational Synthetic”, “Shallow”, “Vacation”, “What a Pleasure”, dan “Sleep Apnea” adalah deretan lagu yang dibawakan malam itu. Beat yang lebih cepat memaksa beberapa penonton untuk berselancar a.k.a stage dive ria, sementara yang lainnya sing a long dengan khidmat. Sesekali saat perpindahan lagu, Dustin mengucapkan “I love you” dan penonton pun membalas “I love you too.” Sungguh malam penuh cinta.

(DIO/KCK)

Tags
Show More

Dio Fadnil

bermimpi punya band keren sedari bayi...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker