Album ReviewsFeaturedMusic

Merenungi Hidup Dalam Album “Bunny” Milik Beach Fossils

Ada yang berbeda pada album keempat milik Beach Fossils berjudul “Bunny”. Judul album boleh terdengar “funny” tapi mendengarkannya dalam lamunan malam yang panjang akan membuat ngeri.

Beach Fossils

Terlalu naif rasanya jika saya terlalu memberanikan diri untuk menulis review album ini, secara saya saja baru mulai mendengarkan Beach Fossil pada tahun 2020. Saat itu saya mendapatkan rekomendasi dari seorang teman yang mempunyai band bergenre Dream Pop di kota tempat saya tinggal. Saya memulai perjalanan mengikuti Beach Fossils dengan track “Down The Line” pada album Somersault yang dirilis oleh mereka pada tahun 2017. Heran-nya saya langsung jatuh cinta dengan lagu itu. Padahal saat itu sepertinya saya masih mendengarkan lagu-lagu yang berada di 50 teratas tangga lagu Billboard (haha). Sebuah pengakuan, tapi harus tetap saya sampaikan dalam paragraf pembuka ini. Namun saya masih ingin menulis review dari album ini semenjak single pertama album “Bunny” dirilis berjudul “Seconds”, muncul rasa penasaran terhadap apa yang ingin dilakukan oleh band asal New York yang diketuai oleh Dustin Payseur ini pada album studio ke-empat mereka. Setelah beberapa single yang dirilis oleh Beach Fossils menjelang peluncuran album, akhirnya pada tanggal 2 Juni lalu 2023 penantian tersebut berakhir manis.

Jika anda membayangkan album ini akan berisikan hal-hal menyenangkan dengan sekumpulan riff dan melodi mayor, cerita yang menyenangkan, maka anda sepenuhnya salah. Alih-alih berbicara mengenai hal-hal yang menyenangkan, album ini justru berbicara mengenai ketakutan, penyesalan, dan self reflection. Berbeda dengan album “Somersault”, “Clash the Truth” dan album self title yang didominasi oleh tempo yang cepat, “Bunny” justru menawarkan sesuatu yang mungkin baru daripada album-album tersebut. Entah mengapa, saat pertama kali mendengarkan album ini, saya langsung membayangkan beberapa adegan sedih dalam sinema, seperti pada film Eternal Sunshine of The Spotless Mind, saat bagian akhir sepasang kekasih tersebut merelakan diri mereka untuk saling melupakan satu sama lain, setelah berusaha dengan berbagai cara.

Album ini dibuka dengan ‘Sleeping on my own’ dengan lirik yang sangat melankolis, kemudian dilanjutkan dengan ‘Run to The Moon’. Pada trek kedua tersebut Payseur seolah olah sedang berbicara dengan anak perempuannya, mengucapkan terima kasih atas kehadirannya membuat Payseur lebih mengenal dirinya sendiri.

This city hasn’t felt the same / Since you moved away, man, we had some days / Wonder if you found your way . Begitu kira kira lirik pembuka dari trek ketiga berjudul ‘Don’t fade away’, terlalu melankolis? memang, namun pembeda disini adalah Dustin Payseur terdengar sudah lebih dewasa dalam penulisan lirik, daripada apa yang ditulis olehnya saat masih urakan dengan berbagai substance yang mungkin ia tenggak.

Saya merasa empat lagu pertama yang terdapat pada album ini terlalu melankolis, walaupun dengan permainan aransemen yang biasa dimainkan oleh Beach Fossils, namun kali ini terasa sangat berbeda dengan album-album sebelumnya jika dilihat dari output mood yang dihasilkan. Apakah merilis album piano “The Other Side of Life” adalah salah satu cara mereka untuk memberi kesiapan pada pendengar terhadap “Bunny”? Tentu hanya mereka yang dapat menjawab pertanyaan tersebut.

“Dare Me” menjadi trek favorit saya pada album ini. Ajaibnya saya hanya butuh mendengarkan sekali saja untuk dapat hafal setiap bait dan melodi yang telah ditulis oleh Dustin Payseur. Dengan berbagai pengulangan pada melodi yang mungkin terkesan dipaksakan, namun tetap saja lagu tersebut menjadi trek yang paling mudah untuk diingat dalam album ini.

Saat mendengarkan trek ketujuh dengan seksama, saya tiba tiba terdiam dengan bait menohok dari lagu yang berjudul “Feel so High” itu. Everybody’s chasing after someone else’s dream / I just wanna live my life. Seolah saya sedang berdialog dengan teman tentang kehidupan (bahasan yang sepertinya terdengar klise namun sungguh suatu hari pasti akan pernah terjadi), kemudian tiba-tiba lawan bicara saya melontarkan kalimat seperti yang ditulis oleh Dustin Payseur dalam lirik lagunya. Seketika saya mempertanyakan hal tersebut pada diri saya sendiri, apakah saya masih membandingkan pencapaian orang lain dengan saya?

Sepanjang album ini, saya merasa Dustin Payseur dipenuhi oleh rasa penyesalan dan telah melalui proses pendewasaan yang rumit jika harus di breakdown satu persatu. Album ini kemudian ditutup oleh bait lirik, yang dapat diibaratkan sebagai saran pada bab terakhir sebuah skripsi tugas akhir. Now don’t look back / Just put it all behind / And you could be happy. Begitu kira-kira saran yang disampaikan oleh Beach Fossils melalui lirik pada trek terakhir “Waterfall”.

Secara garis besar dari lirik dan musik-musik yang dikreasikan oleh Beach Fossils pada album ini tidak terlalu jauh berbeda dengan album-album mereka sebelumnya. Mereka masih bermain di ranah dream pop, shoegaze, dan indie rock. Sepintas terdengar generik, tapi masih sangat Beach Fossils. Mungkin perbedaannya terdapat pada mood yang dihasilkan saat mendengarkan satu album penuh. Jika harus bercermin pada album yang lebih dahulu dirilis, saya merasa Dustin Payseur sudah lebih dewasa dalam album ini, telah menerima apa yang terjadi dalam kehidupan yang fana ini, sembari masih mempertanyakannya. Hidup buat apa? Untuk Apa?

(IKH/VRD)

Merenungi Hidup Dalam Album “Bunny” Milik Beach Fossils

Merenungi Hidup Dalam Album “Bunny” Milik Beach Fossils

Ada yang berbeda pada album keempat milik Beach Fossils berjudul “Bunny”. Judul album boleh terdengar “funny” tapi mendengarkannya dalam lamunan malam yang panjang akan membuat ngeri.

User Rating: Be the first one !
Show More

Muhammad Ikhlas

“Tentang mimpi berkecukupan, tanpa harus lembur lagi, ke Gambir lagi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Related Articles

Back to top button