Penyakit mata yang merenggut kemampuan menyetir mobil justru membuka jalan menuju bengkel nada bagi Jörgen Barkefors. Dari sebuah garasi rumah di Perstorp yang disulap jadi studio, musisi asal Swedia ini menetaskan single anyar bertajuk Maybe it’s just a dream murni dari dorongan batin untuk terus bernapas. Ia tidak repot mengejar pamor panggung besar, memilih meramu hampir seluruh instrumen dan rekaman seorang diri di ruang sempit tersebut.
Aransemennya meluncur santai di atas ketukan drum terprogram yang rapi, meminjam denyut acid jazz era 90-an yang kental dengan sengatan funk dan soul. Trik pelebaran stereo pada frekuensi tinggi membuat bagian chorus mendadak mekar lapang, memeluk vokal hangatnya yang bernyanyi tentang damba akan cinta sejati.
Peter menyumbang solo gitar elektrik yang meliuk pas di paruh lagu, menyayat tanpa kesan pamer kepiawaian teknis yang berlebihan. Ada denyut enerjik yang berdampingan dengan nada-nada murung di sepanjang putaran, sebuah racikan yang membawa kita larut sembari kita spontan mengangguk-anggukkan kepala mengikuti ayunan ritmenya yang renyah.
Saya sendiri selalu luluh pada karya yang dibuat bukan demi angka penjualan, melainkan karena sang empunya memang butuh tempat meluapkan rasa. Gubahan Maybe it’s just a dream milik Jörgen Barkefors ini menyajikan bumbu kejujuran yang terasa gurih ditelan sampai ketukan pamungkas.
Siapa tahu garasi kecil itu kelak benar-benar mencetak sejarah bukan?
Jörgen Barkefors Profile
Alunan pop ritmis yang catchy dengan groove menyenangkan serupa hadir di ulasan The Detours – Letting Go serta ulasan Maya Allaire – Pronoia.



