Judulnya terdengar seperti nama suplemen di etalase toko daring, dan memang ke sanalah HINNI. mengarahkan kita. Peptide Boy adalah lagu tentang looksmaxxing, tentang cowok yang mematut-matut rahangnya di depan cermin sambil diam-diam bertanya apa artinya jadi laki-laki hari ini.
Yang menarik, beban itu tidak dibiarkan menindih bunyinya. Ketukan drum machine yang renyah berjalan stabil, iringan bass yang hangat mengisi bagian bawah, dan synth berpendar tipis-tipis di atasnya. Racikannya bedroom pop yang santai, dengan sisa rap dan RnB yang jadi bumbu musisi asal Berlin ini. Tidak ada yang meledak. Ia bergerak di denyut yang sama dari awal, cukup untuk membuat kepala kita mengangguk-angguk tanpa sadar.
Ada ironi yang manis di situ.
HINNI. tidak meratap dan tidak berceramah soal maskulinitas. Keresahannya dibungkus melodi ringan, seperti keluhan yang disampaikan sambil tertawa (mungkin memang itu cara paling jujur membicarakannya). Kalau ada catatan, Peptide Boy terlalu betah di satu suasana, sehingga menjelang akhir ia hampir tidak menawarkan belokan apa pun.
Saya berjanji tidak akan mengecek rahang sendiri di kamera depan ponsel setelah ini. Mungkin.
HINNI. Profile
Track Info & Review Summary
- Artist: HINNI.
- Track: Peptide Boy
- Genre: Bedroom / Lo-fi Pop, Indie Pop
- Release Date: September 18, 2026
- Label: recordJet
- Rating: 4.0 / 5
- Reviewed by: ParaPop.net
- Overall:
Rekomendasi ulasan lain untuk melengkapi daftar putar akhir pekanmu: ulasan Wholes – Berlin serta pilihan hangat dari arsip ulasan Trey Bruce – All Americans.



