Penumpang yang terhormat, kereta layanan Boketto tujuan London akan segera berangkat dari peron satu.
Windows on Trains memang dibuka dengan pengumuman semacam itu, dan sejak peluit pertama ia sudah terdengar riang-tanpa-berisik.
Di balik Single Audio Channel ada Glynn Hayward, yang di era 90-an bernyanyi dan memetik gitar untuk trio punk melodik asal Bristol, The Curfew. Ia sempat berhenti bermusik setelah kehilangan pendengaran di satu telinga, dan dari situlah nama proyek ini lahir. Satu kanal audio. Ada kelakar yang getir sekaligus manis di nama itu.
Petikan gitarnya cerah dan berkilau, mengunci tempo bersama gitar rima, sementara drum terus mendorong laju tanpa terasa memaksa. Bas menjaga denyut tetap stabil di bawah. Racikannya jangle pop 90-an yang lapang dan tidak berjejal, nyaman seperti kaus lama yang sudah lepek. Vokalnya lugas, melodinya menempel dengan santai, dan kita mengangguk-angguk tanpa sadar. Mungkin saya saja yang memang lemah terhadap akord gitar yang ditempatkan dengan pas.
“Is the juice really worth the squeeze,” nyanyinya sambil kita melamun di balik jendela gerbong. Pertanyaannya dilempar seringan obrolan di gerbong restorasi.
Menjelang akhir Windows on Trains, kita diminta meninggalkan bagasi emosional di kereta. Semoga petugas barang tertinggal tidak kerepotan.
Selamat kembali ke peron, Om Glynn!
Untuk telinga yang mendambakan letupan distorsi tajam dan tempo beringas, simak ulasan Gina Wilder – 3×5 bersama arsip ulasan Savanna Ruth – Everything We Made.



