FeaturedMusic

Michael Jackson, sang Raja Pendobrak Segala Batas

Tak terasa nyaris 40 tahun silam, lewat klip video seperti "Thriller", "Billie Jean", dan "Beat It", Michael Jackson berhasil mendobrak batas rasial dan dominasi musisi kulit putih di MTV.

Mari membuka perbincangan ini dengan sebuah pertanyaan: ketika mendengarkan sebuah lagu atau musik, keseharian apa yang akhirnya dipengaruhi oleh lagu yang didengar? Jika sulit menjawabnya, mari saya umpamakan dengan pengalaman saya sebagai remaja yang tumbuh di akhir tahun 2000-an. Ketika musik alternatif dan berjaya, ketika media sosial belum semarak seperti sekarang, ketika blog dan artikel daring yang jadi suplemen tambahan saya dalam mencari referensi musik dan selingkung dunianya.

Pertemuan saya dengan terbilang aneh. Berangkat dari misperception tentang musik Emo. 2006, saya terlibat dengan sebuah kabaret yang ditampilkan di panggung perpisahan SD saya. Ketika itu saya berperan sebagai “badut” yang nampang pada sempalan-sempalan scene drama. Saya berdandan dengan kacamata hitam, membawa gagang sapu yang diibaratkan sebagai gitar. Berjingkrak bak seorang gitaris handal dengan iringan lagu yang berdistorsi bising dan hentakan drum yang begitu rapat. Di setiap latihan, saya penasaran, sebetulnya lagu apa yang mengiringi adegan saya? Belakangan baru tahu, bahwa lagu itu adalah gubahan Avenged Sevenfold berjudul “Unholy Confession“. Bagiannya dipotong hanya di intro saja. Perpisahan lewat, SMP menjelang. Lagu itu tetap terngiang.

Masuk SMP, saya bertemu dengan banyak teman baru, dan menemukan karib juga. Kami bicara banyak, mulai dari film, musik, thread kaskus tentang konspirasi, isu-isu satanis, atau bahkan perbincangan yang mengarah ke illuminati dan yang memancing gairah anti-amerika dan sentimen terhadap kaum Yahudi. Beruntung tak sampai terjerumus. Kemudian suatu masa, di kantin sekolah, saya dan karib saya ini terlibat perbincangan kenangan di SD. Tentang peran saya di panggung perpisahan. Saya akhirnya bertanya, apakah dia pernah dengar lagu yang jadi backsound scene saya dengan menirukan bunyi gitar dengan verbal. Akhirnya! Setelah sekian lama, saya tahu jawabannya. Dan teman saya ini menambahkan informasi dengan nada sedikit sok tahu: “A7x itu band emo, tahu!” Dan saya mengamininya. Dengan bermodal curiosity yang tergugah, saya mencari informasi tentang yang mengantar saya menjadi anak emo totok, juga membangun kesadaran kalau Avenged Sevenfold bukanlah band emo.

Makin dalam mendalami musik emo, makin juga membentuk identitas saya di luar musik. Ketika itu, facebook mulai jadi kanal bersosialisasi saya dengan banyak teman dan dunia luar. Karena masih hijau, ketika melihat beberapa referensi band di facebook (yang ternyata tak semua emo, hanya sekumpulan scene-boy yang berambut polem dan berdandan gothic, memainkan musik dan semacamnya) saya terpincut dengan fashion mereka. Mulai dari rambut diubah menjadi poni sebiji mata, celana ketat, celak dan kutek hitam saya tekuni selama kurang lebih masa SMP saya selesai. Hingga akhirnya dapat memahami, ternyata menyukai tak harus menjadi.

Begitulah pertanyaan yang saya maksud tadi. Begitu besar pengaruh musik pada keseharian kita. Selain yang saya alami, kejadian ini juga dialami oleh kebanyakan anak muda di Amerika medio 1980an, saat King of Pop mendobrak belantika musik Amerika dengan album berjudul Thriller.

Siapa King of Pop? Ialah Michael Jackson, seorang penulis lagu dan penyanyi asal Amerika kelahiran 29 Agustus 1958. Terkenal dengan dansa Moonwalk, hype-nya menjamur pada setiap orang yang menggilainya hingga sekarang. Terlebih setelah rilisnya album Thriller. Dengan video klip yang ikonik, memakai jaket merah hingga berubah menjadi werewolf dalam adegannya. Dan di hari ini, 26 Februari 1983 silam, Thriller menjadi nomor 1 di tangga musik Amerika.

Michael Jackson, sang Raja Pendobrak Segala Batas 1
Thriller album cover

Berisi 9 lagu, Thriller adalah album yang erat dengan perjalanan sejarah musik kontemporer Amerika dan dunia. Album ini mengubah standar dan persepsi dalam bermusik. Mengemas sebuah karya musik begitu lengkap. Bukan hanya masalah teknik bernyanyi dan bermain instrumen saja, ia juga menyentuh aspek koreografi, tata panggung, dan penyajian yang baru dalam format audio visual.

Sebetulnya, Thriller dirilis di era yang tidak berpihak pada musisi kulit hitam. Menurut catatan Billboard, sebelum Thriller dirilis hanya sedikit musisi kulit hitam yang berhasil menembus chart Billboard hot 100. Dengan Thriller, mampu mendobrak tembok penghalang rasialisme dan genre. Thriller sukses memecahkan beberapa rekor tangga lagu.

Lewat klip video seperti “Thriller”, “Billie Jean”, dan “Beat It”, berhasil mendobrak batas rasial dan dominasi musisi kulit putih di MTV.  Sebelumnya, MTV tak pernah menayangkan video musisi kulit hitam. Lagu-lagu tersebut kemudian mencatat sejarah sebagai video klip artis kulit hitam pertama yang ditayangkan di MTV secara reguler. Keberhasilan MJ tersebut mengantarnya bertemu Presiden Ronald Reagan di White House, juga membuka gerbang bagi artis kulit hitam lainnya seperti Prince.

Thriller bukan sekedar album dengan sejumlah single hits. Thriller bukan hanya tren yang numpang lewat kemudian habis diperbincangkan sesaat. Thriller tak habis di hujan, tak lekang di panas. Popularitas album ini terus mampu bertahan hingga kini. Bahkan mungkin sampai nanti. Menjadi album yang terjual sebanyak 65 juta kopi, memengaruhi jutaan orang hingga kini.

Kiranya ia sekarang bisa tenang. Namanya telah abadi sebagai legenda musik pop dunia. Semua yang dicita-citakan, telah purna diselesaikan. Sesuai dengan surat dan pernyataannya di media ternama pada semasa jayanya yang saya rangkum, MJ mencurahkan harapan dan isi hatinya: “Aku berharap anak kulit putih dapat memiliki pahlawan kulit hitam sehingga mereka tidak tumbuh prasangka. Aku membenci ketidaksetaraan dalam bisnis rekaman, bahwa orang kulit hitam tidak bisa tampil di MTV, aku melakukan hal ini karena marah. Aku ingin membalas dendam, aku ingin membuktikan diri. Bagaimanapun aku tak membenci orang kulit putih, orang kulit hitam, semua ras. Aku ingin keadilan. Sekarang adalah waktu untuk karya-karya yang aku miliki. Aku ingin semua ras mencintaiku sebagai kesatuan.” Dan semuanya tercapai sudah. Hail to the King of Pop!

Michael Jackson, sang Raja Pendobrak Segala Batas 2
Show More

Muhamad Rizqi

Menulis adalah bumbu untuk hidup yang begini melulu.
Back to top button