Menemukan gelombang siaran yang terselip di sela desis statis radio larut malam selalu menyisakan ketenangan yang ganjil. Penyanyi sekaligus pencipta lagu yang bermukim di Swedia, Maini Sorri, menghadirkan suasana hening serupa lewat single gospel terbarunya bertajuk Belief. Ia tidak berniat meledakkan panggung besar dengan sorak paduan suara yang megah, memilih merayap pelan menyalakan sebutir lilin di atas meja tidur.
Aransemen lagunya ditopang hamparan pad digital yang dingin dan denyut drum mesin elektronik yang berdetak konstan. Lapisan synthesizer berkilau tipis layaknya kaca yang disapu embun, membiarkan tarikan vokalnya yang jernih melayang bebas tanpa terbebani tumpukan ornamen riuh.
Ada rasa lelah yang mengendap saat kita diajak mengunyah racikan nada bernuansa murung ini, cukup untuk membuat bulu kuduk bergetar sembari kita memejamkan mata menyimak kisahnya. Denyut ritmisnya terus bergulir menjaga jarak, menyajikan komposisi yang tetap renyah ditelan tanpa terseret drama yang berlebihan.
“Betrayal turns to relief, denial to belief,” lantunnya lirih saat membedah beratnya jalan penderitaan. Saya sendiri menikmati bagaimana gubahan Belief racikan Maini Sorri ini memilih menjaga ketenangan sampai ketukan instrumen pamungkas. Desis radionya mungkin meredup, namun kehangatan kecilnya tetap tertinggal di ruangan.



