Ada album yang terasa seperti album foto keluarga yang lupa disusun menurut tanggal. Lamaran muncul sesudah pesta pernikahan, cinta monyet terselip di halaman-halaman akhir, dan tepat di tengahnya terpasang selembar foto lama milik seorang paman.
Album foto itu milik The Como Brothers, duo bersaudara Andrew dan Matt Como dari Long Island, New York. Dua puluh tahun mereka manggung di mana saja yang mau menerima, ratusan kali dalam setahun, hingga akhirnya masuk tiga besar finalis kompetisi American Songwriter Road Ready.
Whisper In The Wind memuat tujuh belas lagu, dan mereka sendiri menyebutnya kumpulan gaya yang berbeda-beda, dari pop-rock, sentuhan country, folk, sampai pop retro yang bertumpu pada harmoni.
Halaman pertama dibuka Halo or Wings, gubahan bersama Joe Ragosta, penulis lagu di balik Need A Favor milik Jelly Roll. Petikan gitar akustik dan raungan lembut gitar elektrik bergerak di tempo sedang sebelum reff-nya membubung. Tapi yang membuat kepala mengangguk adalah idenya. “Well this old King James, must be missing a page”, nyanyi mereka, karena perempuan secantik itu mustahil tidak disebut di kitab suci. Satu konsep, satu belokan, dan ia sudah selesai sebelum genap tiga menit. Begitulah cara Nashville meracik lagu, dan dua bersaudara ini jelas sudah belajar.
Lalu album dibalik cepat. You Remind Me menyambar dengan dentuman drum dan gitar yang renyah, membawa kita ke Port Jefferson, kota pelabuhan tempat mereka tumbuh, lengkap dengan kaset mixtape berisi Jimmy Eat World. I Don’t Like You adalah foto masa kuliah yang bikin geli, ditulis Matt di kamar asrama sekitar 2010 dengan lirik ketus-ala-anak-asrama.
Somewhere In This Cup, kolaborasi pertama mereka dengan Sam Woolf di album ini, dibuka dengan seorang pemuda yang mencari keberanian di dasar gelas untuk menyapa gadis di seberang bar. Satu bait kemudian, tanpa permisi, mereka sudah menikah dan punya tiga anak.
Foto berikutnya adalah undangan pernikahan. Forever Plus One lahir ketika Andrew (maksudnya, istrinya) sedang mengirim undangan dan melihat kotak “plus one” di kartu balasan. Ide sekecil itu dimasak dengan telaten sampai jadi reff “I could dance with you forever but forever ain’t good enough”.
Living In This Moment kemudian digeber dengan gitar elektrik besar dan drum ala rock klasik, buah dari menonton dokumenter Get Back milik The Beatles dan Life With You versi akustik menutup babak ini sebagai lagu dansa pertama Andrew di hari pernikahannya bulan April.
Babak pertama berakhir di lantai dansa.
Tepat di halaman tengah, trek kesembilan dari tujuh belas, terselip foto paling tua. All I Want Is You bukan tulisan mereka. Lagu ini digubah Paman Lawrence untuk bandnya, The Words, di akhir 70-an, dengan ayah mereka duduk di balik drum. Waktu kecil, Andrew dan Matt mengira The Words adalah bintang dunia. Sang paman berpulang pada 2023 di usia 62, dan versi baru ini diberi band penuh plus solo saksofon dari Bob Reynolds, peraih Grammy yang pernah bermain untuk John Mayer. Liriknya jenaka, tentang menelepon gebetan tapi malah kakaknya yang mengangkat. Ada kehangatan yang tidak bisa dibuat-buat di sini.
Di sekitarnya ada Make My Heart Move, lagu panggung andalan mereka yang kini diberi cerita baru tentang seorang prajurit yang rindu pulang. Ada juga Your Baby I’ll Be, lagu untuk ibu yang diam-diam paling cerdik di album ini. Baitnya dinyanyikan dari mulut sang ibu yang meninabobokan bayinya, sedangkan reff-nya dijawab si anak yang sudah dewasa.
Wanna Be dan The Ride adalah dua foto dari orang yang sama, berjarak dua puluh tahun. Yang pertama memotret bocah di kamar yang bermimpi melihat namanya terpampang di lampu panggung. Yang kedua menjawabnya dari sebuah bar sepi. “Bartender said tonight’s gonna be dead”, dan si bartender pula satu-satunya penonton malam itu. Kalau ibu-ibu di sini biasanya mendoakan anaknya lolos CPNS, ibu keluarga Como justru menjanjikan lampu panggung, sementara sang ayah tetap datang ke bar-bar kosong itu dan ikut bernyanyi.
One & Only lewat sebagai lagu lama yang akhirnya direkam sesuai bayangan mereka, walau liriknya tak meninggalkan banyak bekas. Lalu tibalah Whisper In The Wind, trek judul sekaligus kolaborasi kedua dengan Sam Woolf. Matt baru menyanyikan dua kata pertama ketika Andrew dan Sam langsung menyambar dengan harmoni kedua dan ketiga. Tiga suara itulah jantung lagunya, menyanyikan nasihat sang ayah soal tetap tersenyum dan mengikat tali sepatu sendiri. Sederhana, dan bulu kuduk tetap bergetar.
Menjelang akhir, album foto ini mulai terasa tebal. Magic berkilau dengan dan ketukan ala pop 80-an, tapi lirik cinta monyetnya generik. Padahal Paman Lawrence yakin betul lagu ini, juga I Don’t Like You, bakal jadi hits. Will You Marry Me?, yang dinyanyikan Andrew di malam ia melamar, tulus tapi lurus-lurus saja. Lembaran-lembaran ini kita balik lebih cepat.
Halaman terakhir kembali ke Life With You, kali ini dengan gitar yang berkilau di atas petikan akustik. Lagunya sama dengan yang tadi dipakai berdansa. Hanya saja pestanya sudah usai.
Album foto ini memang tidak tersusun rapi. Tapi dua puluh tahun bernyanyi untuk bartender ternyata cukup bagi The Como Brothers untuk mengisi setiap lembarnya dengan orang-orang yang tetap datang.
Daftar lagu album The Como Brothers Whisper In The Wind:
- Halo or Wings (2:28)
- You Remind Me (3:05)
- I Don’t Like You (2:53)
- Somewhere In This Cup (2:41)
- Forever Plus One (3:00)
- Living In This Moment (3:23)
- Life With You (Acoustic) (2:50)
- Make My Heart Move (2:41)
- All I Want Is You (2:37)
- Your Baby I’ll Be (3:03)
- Wanna Be (3:02)
- The Ride (3:04)
- One & Only (2:35)
- Whisper In The Wind (2:18)
- Magic (2:49)
- Will You Marry Me? (3:11)
- Life With You (2:44)



