“Why??”
Satu kata, dua tanda tanya, berdiri sendirian di antara dua bait. Di seluruh lirik Washed Away, baris itu yang paling jujur. Laji George tidak repot membungkus kebingungannya dengan metafora. Ia cuma bertanya.
Single dari album solo perdana Out of Line ini langsung melempar kita ke gitar tanpa intro basa-basi. Teksturnya dingin dan berkilau di bait yang murung, lalu meledak jadi distorsi tebal di bagian reff, masif tapi anehnya tetap hangat.
Suasana sunyi di bait awal itu perlahan ditarik naik sebelum akhirnya meledak menghantam kita lewat bentangan distorsi grunge tebal yang masif di bagian chorus. Tarikan vokalnya melesat tinggi dengan raungan serak yang telanjang, memberi bobot yang pas di antara dentum drum dan dengungan bas yang menolak kompromi.
Bahannya pinjaman dari Eternal Sunshine of the Spotless Mind, film tentang pasangan yang menghapus ingatan satu sama lain setelah putus. Versi kita barangkali menghapus semua foto berdua dari galeri ponsel, lalu menyesal jam dua pagi. Frontman Pseutopia ini memindahkan kegelisahan putus-lalu-ingin-amnesia itu ke laut. Ada ombak yang menyeret, pantai yang ditinggalkan, pasang yang berbisik, cahaya yang pecah di kaca, sampai dada yang tenggelam di bagian outro. Gambar air datang bertubi-tubi, dan lama-lama liriknya terasa basah kuyup. Saya sampai ingin menyodorkan handuk.
Washed Away tidak menutup lukanya dengan rapi. Ia berhenti di tengah gema.
Kalau sisa album Out of Line nanti sejujur baris bertanda tanya dua itu, kawan-kawan Laji di Pseutopia boleh mulai cemburu.
Laji George Profile
- www.facebook.com
- x.com
- on.soundcloud.com
- lajigeorge.bandcamp.com
- youtube.com
- www.instagram.com
- www.tiktok.com
Ledakan aransemen alternatif yang berisik dan bertenaga serupa mengalir di ulasan Me + Nobody – me and all my friends dan arsip ulasan Mister Chorister – You’re Not Listening.



