Henry Taylour terdengar seperti seseorang yang menulis lagu ini di antara dua tegukan terakhir dari botol wine, dengan jendela terbuka dan mata yang belum bisa tertutup sejak semalam. “If I Only Knew” terasa seperti pengakuan lirih yang tidak ditujukan untuk siapa-siapa, tapi akhirnya malah mengenai siapa saja yang pernah tenggelam dalam penyesalan dan rasa bersalah.
Dengan gaya folk rock yang pelan tapi terus membangun, lagu ini mulai dari bisikan patah hati yang akhirnya pecah jadi luapan emosi yang liar dan mentah. Dari lirik “If I could stop eating glass” bersama vokal Henry seperti tumpukan luka yang akhirnya meledak. Tidak dramatis, tapi jujur. Dan justru itu yang paling mengena.
Lagu ini bukan sekadar soal insomnia atau rasa bersalah, tapi tentang menatap cermin dan mengakui, “Gue nggak tahu harus gimana.” Itu kalimat yang sederhana, tapi beratnya kadang lebih dari semua keputusan yang pernah kita ambil. Dan dalam sunyi yang semakin ramai di akhir lagu, Henry berhasil menyuarakan kekosongan itu dengan sangat hidup.



