Tujuh menit untuk sebuah lagu folk di tengah linimasa hari ini adalah kemewahan gila, atau bentuk keras kepala yang menawan. Menggali kembali rekaman perdananya dari tahun 1999 yang sempat terselip lama, musisi asal Inggris
Hamish menyuguhkan tembang bertajuk Singing In My Soul dengan sikap yang kelewat santai. Pria yang mendirikan dan mengelola panggung legendaris Rabbit Hole di Glastonbury Festival selama enam belas tahun demi menyokong musisi muda ini memilih membiarkan karyanya mengalir tanpa polesan berlebih.
Denting gitar akustiknya meluncur pelan, mengayun tanpa buru-buru dan ini memberi ruang lega bagi tarikan vokal tuanya yang hangat untuk menyelimuti pendengar tanpa sedikit pun nafsu pamer ketangkasan nada.
Ada ketenangan yang merayap di sekujur badan saat kita diajak mengunyah alunan nadanya yang panjang. Aransemennya tidak repot bersolek dengan bumbu ornamen modern yang licin, melainkan membiarkan bunyi kayu dan hawa ruangan tua Hatfield Court meresap utuh hingga ke pori-pori rekaman. Lagu ini di tutup dengan dengungan harmoninya berpadu renyah, cukup untuk membuat bulu kuduk bergetar sembari kita memejamkan mata di sudut kamar.
Lagu sepanjang ini lewat begitu saja tanpa sedetik pun terasa melelahkan di telinga. Racikan Singing In My Soul milik Hamish membawa kesederhanaan akustik yang matang memang selalu terasa paling gurih ditelan sampai petikan dawai penghabisan.
Bisa diputar sekali lagi selagi cangkir tehnya masih mengepul bukan?
Hamish Profile
Bagi yang mencari jeda dari bisingnya linimasa lewat petikan gitar lembut, dengarkan ulasan TJLQ – Quark serta ulasan Jeff Toth – Swept Up.



