Petikan gitar akustik yang jernih membuka Send Me, pelan dan sabar, seperti orang yang baru selesai berdoa dan belum mau bicara. Lalu drum masuk dengan langkah mantap.
Single debut ini lahir dari satu keluarga, Jessie di vokal dan kibor, suaminya Chris di gitar dan bas, iparnya Derek di drum, yang sudah delapan belas tahun bermain bersama sebelum memakai nama Echo The Light.
Gitarnya atmosferik khas lagu pujian modern, dengan sedikit debu Americana menempel di ujungnya. Mulai reff kedua, overdrive ala akhir sembilan puluhan menyembur hangat, dan vokal Jessie yang tegas diangkat harmoni ala paduan suara. Bridge-nya menghimpun tenaga lewat drum dan bas yang berdenyut. Lalu ia terus menanjak. Makin tegas. Makin tinggi. Ada klimaks yang benar-benar dibayar lunas di sini, dan kita bisa merasakan bulu kuduk bergetar tepat ketika semuanya tumpah.
Dan ini nyaris berakhir dengan fade out biasa. Jessie menyukai lapisan bunyi ekstranya, lalu penutup itu disusun ulang dengan sengaja di studio. Saya ikut lega mereka tidak jadi memudar.
Lewat nomor Send Me, gerombolan Echo The Light menyuguhkan sebuah perjalanan musikal yang tuntas dari awal hingga denting penghabisan. Ruang dengar rasanya mendadak jadi jauh lebih lapang setelah lagunya selesai.
Oh ya, studionya di Norman, Oklahoma, tempat yang sama dengan, uhuk, The Flaming Lips. Uhuk.
Echo The Light Profile
Untuk telinga yang mendambakan letupan distorsi tajam dan tempo beringas, simak ulasan Sidney – don’t take me home bersama arsip ulasan Will Lynde – Playing With Fire.



