ConcertFeaturedVideo Post

Birdy Live in Spore: Gadis Kerajaan yang Kembali ke Tanah Kolonial

Parapop – Saya kadang kagum; heran; takjub; tercengang; terpesona; terpukau dengan sejumlah hal dalam industri kreatif di era milenial ini. Spesifik di ranah musik, talenta-talenta muda tak lagi harus lama bersabar menunggu usia dewasa untuk ditemukan. Kisah Joey Alexander adalah salah satu contoh nyatanya. Contoh lain barangkali gadis (tidak, saya tidak akan berbicara mengenai Selena Gomez atau Miley Cyrus) bernama Jasmine Lucilla Elizabeth Jennifer van den Bogaerde. Nama yang terlalu panjang untuk mudah diingat. Maka ia lebih dikenal dengan nama pendek Birdy.

birdy
Birdy lahir dan tumbuh di Lymington, sebuah kota pelabuhan di pesisir selatan Inggris. Tahun ini ia genap berusia 20 tahun dan tengah melakukan tur dunia untuk album terbaru “Beautiful Lies”. Lebih istimewa dari “Awkarin” bukan? Jauh, Birdy jauh lebih istimewa. Saat berusia 12 tahun, ia telah dikenal seantero Inggris karena berhasil menjuarai kontes Open Mic UK. Dua tahun berikutnya, ia menjadi viral di kanal Youtube karena video cover dari lagu Skinny Love milik Bon Iver. Hingga kini, video tersebut telah diputar lebih dari 100 juta kali di Youtube. Skinny Love ala Birdy pun berhasil menjadi salah satu hit dalam UK Singles Chart kala tahun 2011. Kini saat berusia 20 tahun, ia telah pernah menjadi salah satu nominator Grammy, menulis lagu sendiri dan mencatat rekor six-time platinum album, hingga menjelajah dunia melalui sejumlah konser musik.

Apa yang membuat Birdy begitu cemerlang saat teman-temannya masih hanyut dalam hingar bingar remaja? Meski ia berhasil menjuarai ajang pencarian bakat, namun eksposur atas hal itu bukan pengaruh paling utama karena tidak seperti pattern ajang pencarian bakat di negara kita yang begitu mengeksploitasi sisi mendayu-dayu hidup si peserta untuk dapat memenangkan hati khalayak. Bila berbicara sisi hidup Birdy, barangkali tak bisa dipakai sebagai dramatisasi untuk komersialisasi dirinya. Dia sudah kaya raya dari sebelum lahir.
Garis keluarganya adalah salah satu garis keturunan keluarga berdarah biru di negara Inggris. Kakek buyutnya adalah seorang Lord Teynham, yang merupakan salah satu bangsawan dalam catatan Kerajaan Inggris masa lampau. Ibunya adalah Sophie Patricia, pianis yang disegani di negara itu. Sedangkan ayahnya, Rupert Oliver Benjamin van den Bogaerde, merupakan seorang penulis. Mereka tampaknya berhasil memformulasikan unsur kreativitas dalam diri Birdy.

“Saya mulai menulis lagu tidak untuk menjadi terkenal. Saya melakukan hal itu karena kecintaan saya pada musik. Saya juga tidak ingin “berisik” karena sebenarnya tidak ingin mencari perhatian,” ujar gadis berambut panjang ini seperti dilansir Telegraph.co.uk beberapa waktu lalu.


Ketidakberisikan inilah yang sebenarnya menarik dari dirinya. Di kala kebanyakan artist sengaja gembar-gembor membuat citra di berbagai jejaring sosial mereka, Birdy tak banyak berceloteh. Pengikutnya di Instagram-pun tak sampai 300 ribu. Dua tahun lalu seingat saya bahkan hanya puluhan ribu pengikut ketika saya pertama kali penasaran dengan isi Instagramnya.

Pertengahan tahun 2016 ini, beberapa kota di belahan Asia ikut menjadi bagian pemberhentian turnya. Salah satu kota itu adalah Singapura yang dari region Ibukota Jakarta hanya berjarak sekitar 880 kilometer, kurang dari dua jam bila ditempuh melalui perjalanan udara. “The Gathering with Birdy” menjadi tajuk konser pertamanya di Singapura, tepatnya di Suntec Singapore Convention & Exhibition Centre pada hari Selasa, 2 Agustus 2016. Banderol untuk konser ini tergolong tidak begitu fantastis, mulai dari SG$88 atau pada harga 850 ribuan bila dikonversi ke rupiah. Jika namanya masih samar-samar bagi Anda, coba ingat-ingat lagi suara vokal perempuan dalam soundtrack film The Fault in Our Stars dan The Hunger Games.
(Telegraph/Songkick/Aldo)

Source
Telegraph
Tags
Show More
Close
Close