Lirih dulu, ramai kemudian. Begitulah Symphony (Live at Uncommon Ground) bergerak, dari pengakuan satu orang menjadi sesuatu yang dipikul seisi ruangan.
Attack the Sound, band Chicago yang menyebut racikannya Chi-Pop, merekam lagu ini langsung di Uncommon Ground akhir Mei lalu, dan tidak berusaha memolesnya sampai licin seperti rekaman studio. Gitar, keys, dan ketukan yang tenang menahan diri di awal, membiarkan vokal yang penuh soul bercerita sendirian, lalu suara-suara lain datang mengerubunginya satu per satu sampai harmoninya berlapis dan kita seperti duduk di kursi paling depan sambil memejamkan mata. Ada kehangatan yang tak bisa dibuat-buat dari sebuah band yang bermain di ruangan yang sama.
Kendati begitu, kita sudah bisa menebak ke mana ia akan naik. Dan ia memang naik persis di sana.
Baris pusatnya adalah pengakuan bahwa hidup yang dijalani ternyata bukan simfoni yang dulu dibayangkan. Davo Sounds, frontman band ini, menganggap pengakuan itu titik awal, bukan akhir lagu, sebab apa yang datang sesudahnya masih bisa diubah. Sampul single-nya menggambar gagasan yang sama, sebuah tangan menjangkau sosok dari sobekan kertas di antara bintang dan bulan sabit, meraih hidup yang dibayangkan dari dalam hidup yang sekarang.
Yang paling hangat justru bersembunyi di belakang. Sisipan harmoni kecil muncul tipis-tipis di sela vokal, dan sebuah terompet yang berdiri jauh di belakang memberi lagu ini dimensi yang hangat, seperti lampu kuning di ujung ruangan yang membuat semua orang terasa lebih dekat. Tak pernah menyerobot, cukup ada.
Terompet itu sebaiknya diajak ke setiap sesi berikutnya, Attack the Sound.