Alma Perry Peleg menyapa kita lewat “Blossom” yang terdengar seperti seseorang yang sudah terlalu lama menunggu musim berganti. Lagu ini membawa rasa tertahan, seolah musim gugur belum selesai, musim dingin keburu datang, dan musim semi lupa mencatat alamat rumah. Di balik gambaran itu, ada luka masa kecil tentang pengabaian dan kebiasaan mencari sosok ibu dalam diri orang lain.
Produksi minimalisnya sengaja menyisakan banyak ruang agar bobot lirik tidak tertutup oleh aransemen yang terlalu ramai. dan disampaikan dengan gerak yang lebih hemat. Hasilnya terasa intim, seperti pengakuan yang diucapkan pelan karena beberapa kenangan memang tidak nyaman jika dibicarakan sambil berteriak.
Makna mekar di sini tidak datang dari kalimat motivasi yang ditempel di dinding kamar. Alma Perry Peleg melihat pertumbuhan sebagai sesuatu yang baru muncul setelah bagian lama dibiarkan layu dan jatuh. Pencarian akan rasa aman perlahan berbalik ke dalam, menuju kesadaran bahwa perhatian dan penerimaan yang selama ini diminta dari orang lain juga perlu diberikan kepada diri sendiri.
“Blossom” memang tampaknya tidak ingin buru-buru sampai ke musim semi. Lagu ini memilih duduk bersama luka sebentar, lalu menunggu sampai diri sendiri benar-benar siap untuk tumbuh.
