Melihat nama mantan pentolan A Day to Remember dan The Amity Affliction duduk di kursi produser, saya sempat bersiap memasang kuda-kuda menyambut gempuran distorsi cadas. Namun unit pop punk asal Brisbane All Hours justru berbelok arah lewat tembang anyar bertajuk Forever Meant Nothing. Mereka menahan diri dari godaan riff bising, memilih membiarkan ketukan rapat mengambil alih kendali ruangan.
Ia bergulir tenang di atas denyut ritmik yang tebal, memadukan ketukan drum dengan gitar mengalun berkilau di frekuensi tengah tanpa kehilangan gigitan distorsinya, memberi ruang lapang bagi tarikan vokal perempuan yang serak basah meluncur empuk di garis depan.
Ada kegetiran yang manis saat lapisan nadanya saling bertaut rapi, racikan pop punk yang lekas membuat kepala kita spontan mengangguk-anggukkan ritme mengikuti ayunannya yang bersahaja. Kita diajak mengarungi sisa kenangan masa muda yang lekas berlalu tanpa perlu terseret drama rengekan yang cengeng.
Nomor Forever Meant Nothing ini membawa keberanian All Hours menanggalkan seragam pop punk demi merengkuh spektrum rasa yang lebih dewasa. Album penuh mereka di awal November nanti tampaknya bakal menyuguhkan kejutan yang jauh lebih berani.
Bagi penikmat musik yang menggebu dengan hentakan drum solid, telusuri ulasan Shohini – DAY I’LL RECLAIM berdampingan dengan ulasan superserious – My phone or something.



