FeaturedList

5 Album Ngepop yang Terlewatkan di Tahun 2017

Setahun belakangan, musik yang saya dengar tidak lagi penuh dengan distorsi yang hingar-bingar. Entahlah, barangkali saya sudah berada pada fase “terlalu tua untuk musik keras”. Tapi, barangkali musik-musik ngepop yang saya dengar ini juga akan nyaman berlabuh di telingamu. Berikut daftarnya:

Tennis: Yours Conditionally

Rasa cinta sepertinya memanglah inti paling utama dalam berkarya. Terlebih bila cinta itu mengalir dari dua sejoli yang telah kukuh dalam pertalian suami istri. Dalam bidang akademik, Pierre dan Marrie Curie adalah contohnya.

Dalam bidang musik, saya sendiri punya contoh relevan tentang hal ini. Tapi bukan Endah & Rhesa, ya. Tidak juga Krisdayanti dan (eks suami) Anang. Nama pasangan yang saya sodorkan adalah Patrick Riley dan Alaina Moore, pasutri yang mendendangkan lagu di bawah nama band Tennis.

Dalam album ini, komposisi musik Tennis tak hanya dibuat dari unsur cinta. Ada karakter nada-nada pop 70an yang mendorong perasaan tetap happy meski liriknya kadang menceritakan kisah-kisah melankolis seperti track nomor 8, “10 Minutes 10 Years”.

Selain itu, diselipkan juga sejumlah pemikiran-pemikiran kritis yang mudah masuk ke dalam pikiran pendengarnya berkat hipnotis suara vokal halus berlatar nada-nada musik yang cair tanpa menggebu-gebu. Singkatnya, Your Conditionally adalah satu set musik romantis yang dapat membuat hati berbunga meski dirundung kegalauan.

Label: Mutually Detrimental
Tanggal rilis: 10 Maret 2017

Beeches: Famous Friends

Ada musik yang efeknya akan semakin terasa meresap ke dalam jiwa ketika dipasangkan dengan momen-momen tertentu. Nah, sekarang coba bayangkan kamu sedang duduk santai di tengah taman, menanti semburat oranye dari matahari musim panas (atau kemarau) yang sudah mendekati horizon bumi. Suasana yang syahdu itu akan semakin khidmat ketika lagu-lagu Beeches dalam album Famous Friends ini diputar.

Harmoni suara yang merdu dari duo asal Selandia Baru itu diselaraskan lagi dengan nada-nada pop steady-cum-dinamic yang dihasilkan dari kocokan gitar bermelodi shoegaze, synthesizer yang sopan, dan tabuhan drum yang guyub.

Serangkaian track dalam album Famous Friends ini sejatinya masih dikemas dalam versi EP yang menandakan mereka masih newbie di jagat musik. Tapi, agaknya Like Thompson dan Alex Wildwood bisa berbicara (atau bernyanyi) lebih banyak di tahun-tahun ke depan karena kesyahduan musik yang mereka buat.

Label: Self Released
Tanggal rilis: 14 April 2017

Billie Eilish: Don’t Smile at Me

Semakin ke sini semakin banyak musisi muda yang mencuri pendengaran saya. Setelah tahun-tahun sebelumnya terpukau oleh Birdy, Aurora Aksnes, dan Flo Morrissey, maka pada tahun 2017 lalu nama Billie Eilish dengan album mininya “Don’t Smile at Me” menyusupkan adiksi ke dalam tracklist harian saya.

Ia sendiri masih sangat muda, baru akan memasuki manisnya 17 tahun pada tahun ini. Benang merah cerita yang dinyanyikannya juga memang sangatlah pop: seputar gundah gulana asmara remaja. Tapi melankolia pop yang dilantunkan dari lirik-liriknya terdengar lebih gelap dibanding lagu-lagu remaja patah hati kebanyakan.

Saya saja yang sedang tidak dirundung masalah perasaan sontak dapat merasakan gaung emosi yang dirambatkan dari lagu-lagunya. Kalau tidak percaya, coba mulai dengan memutar track nomor #2, “idontwannabeyouanymore”. Sayang, tahun ini saya terpaksa melewatkan lawatannya ke Singapura dalam rangka Laneway Festival. Lho, kok curhat?

 

Label: Darkroom/Interscope Records
Tanggal Rilis: 11 Agustus 2017

The Marias: Superclean Vol. I

Petikan gitar yang tenang menghanyutkan, beat tidak neko-neko, suara vokal tipis nan sensual, itulah karakter yang paling terasa selepas saya mendengar track andalan mereka, “I Don’t Know You”. Setelah berkenalan lebih jauh dengan album “Superclean Vol. I” yang menginduki track tersebut, keinginan untuk merekomendasikan band ini pada lebih banyak orang menjadi semakin tinggi. Aura sunyi warung kopi lewat tengah malam adalah efek samping yang dihasilkan setelah khusyuk mendengarkannya. Amat menentramkan untuk dinikmati sembari menyeruput tetesan kopi terakhir.

Label: Superclean Records
Tanggal Rilis: 3 November 2017

British India: Forgetting the Future

Majalah Rolling Stone Australia menyematkan empat bintang pada album ini. Tapi bukan itulah yang membuat saya memasukkan album penuh nomor 6 dari British India itu ke dalam daftar ini. Saya sendiri baru tahu beberapa jam ke belakang mengenai fakta tersebut.

Seperti yang sudah saya sebut, “Forgetting the Future” ini adalah album ke 6 sepajang Declan Melia, Will Drummond, Nic Wilson, dan Matt O’Gorman berorganisasi dalam satu perkumpulan bernama British India sejak tahun 2004. Dan saya ingin mengapresiasi konsistensi mereka selama 13 tahun di dalam grup musik itu. Sungguh, pastinya sangat sulit melewati lebih dari satu dekade tanpa memutus produktivitas karya yang bermutu.

Tapi untungnya juga, setelah mendengar album ini, saya menarik kesimpulan bahwa mereka masih belum jenuh dalam band. Sebab, musik yang dirancang untuk album “Forgetting the Future” masih memiliki core yang sama dengan album-album sebelumnya; agresif. Hampir semua track digeber dengan komposisi musik oktaf tinggi, bahkan sejak track pertama berjudul “Precious”. Tapi, hantaran frekuensi musik pada album ini tak akan bikin pikiran awut-awutan. Album ini akan ideal didengar ketika kamu tengah dikejar deadline. Silahkan dicoba!

Label: AntiFragile Music
Tanggal Rilis: 22 September 2017

Tags
Show More
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker