FilmsEntertainment

Trainwreck: Woodstock 99, Sebuah Catatan Kelam Festival Musik Kenamaan

Udah nonton dokumenter Woodstock belom? Parah banget ya Woodstock ternyata? Menurut lo gimana?

Pertanyaan ini sering muncul belakangan ini di lingkungan pergaulan saya, pada akhirnya hal tersebut membuat saya harus menyempatkan diri duduk depan laptop, membuka laman Netflix, kemudian menonton serial dokumenter yang terdiri dari 3 episode garapan sutradara Jamie Crawford yang diproduksi oleh Netflix.  Selain untuk tetap dapat diterima dalam ruang obrolan di lingkungan saya, alasan lain yang membuat saya harus menonton serial ini adalah agar dapat menjawab berbagai pertanyaan dari teman sejawat yang merasa bahwa saya (sebagai mahasiswa film) sangat mengikuti perkembangan film. Sungguh saya tidak tahu, sejak kapan pula tanggung jawab ini harus saya pikul kemana-mana.

Semenjak terjadi pelonggaran setelah melalui dua tahun masa pandemi, kita semua berlari mengejar berbagai festival musik yang diselenggarakan secara semarak dimana-mana. Jika berbicara tentang festival musik, maka acap kali nama “Woodstock” disebut sebagai salah satu festival musik paling monumental. Pertanyaan berikutnya tentu adalah jika festival ini sedemikian berhasil di tahun debutnya 1969 yang lalu, mengapa butuh 25 tahun kemudian baru festival ini kembali diadakan pada tahun 1994, lalu menyusul 5 tahun kemudian di tahun 1999 yang akan menjadi kisah utama dokumenter series ini. Sependek pengetahuan saya, festival musik diselenggarakan setiap tahun sih (diluar masa pandemi), mau itu Coachella, Fuji Rock, hingga Synchronize Festival sekalipun. 

Trainwreck : 99 merupakan sebuah serial dokumenter yang menceritakan tentang sebuah festival musik yang sangat terkenal di Amerika Serikat (bahkan mungkin dunia) bernama Woodstock yang diselenggarakan pada tahun 1999 di sebuah bekas pangkalan angkatan udara Roma, negara bagian New York. Festival musik ini adalah upaya kedua kali untuk mengulang kesuksesan Woodstock tahun 1969. Dokumenter diawali dengan sebuah optimisme yang tinggi dari seorang pemuda yang berumur 27 tahun (saat itu) bernama Michael Lang beserta timnya yang ingin kembali menghadirkan semangat perdamaian, dan cinta yang dibangun saat Woodstock 69. Konteksnya pada saat Woodstock tahun 1969 dunia sedang digemparkan oleh  perang antara Vietnam dan Amerika Serikat yang dirasa tidak perlu oleh sebagian masyarakat, setiap hari berita yang didengar hanyalah tentang peperangan dan kematian, hal tersebut menjadi latar belakang Woodstock 1969. Namun semangat dan nilai yang coba dibawa ini hanya tinggal “kisah” semata. Woodstock 99 berakhir sangat tragis serta memberikan pengalaman pahit bagi penonton yang datang menghadiri. Kenapa bisa begitu? Saya pun tidak tahu, awalnya saya pikir dokumenter ini akan memperlihatkan keseruan festival di masa itu. Namun, saya memang harus dibuat terperangah.

Memang benar secara value festival ini memiliki berbagai deretan bintang pada masa itu, sebut saja James Brown, Korn, Rage Against The Machine, Red Hot Chili Peppers, Limp Bizkit hingga Metallica yang menjadikan alasan 220.000 orang membeli tiket dengan harapan dapat menonton sang idola, bergembira dengan segala hiruk pikuk yang terjadi saat itu di dunia. Namun kenyataannya tidak se-menyenangkan itu. Sampah bertebaran dimana mana, kobaran api yang sangat besar membakar menara FOH panggung utama, bahkan pelecehan seksual sudah menjadi hal yang biasa, yang paling disayangkan adalah festival ini menimbulkan banyak korban jiwa. 

Tidak ada kata perdamaian pada festival ini, saya hanya menemukan kebencian dan pemberontakan penonton festival yang sudah membayar ratusan dollar hanya untuk menerima toilet umum yang dipenuhi oleh genangan lumpur (kotoran manusia), ketersediaan air yang sangat minim, bahkan untuk minum air mineral saja penonton harus membayar 4 dolar untuk satu botol yang biasanya hanya hitungan sen. “Kekacauan apalagi ya yang bakalan terjadi?” pertanyaan tersebut selalu muncul di otak saya saat menonton ini. Dokumenter ini juga memperlihatkan permasalahan kelas sosial dimana saat penonton mati kehausan dan kepanasan, pihak penyelenggara dan musisi terlihat sangat santai sambil tertawa di belakang panggung dengan fasilitas yang lengkap dan memadai. Bangsat! Saya harus mengumpat.

Dokumenter ini ditutup dengan penandatangan perjanjian tutup mulut oleh semua crew dan pihak penyelenggara untuk tidak ada yang berbicara kepada media mengenai apa yang terjadi, sebuah upaya yang membuat geleng-geleng kepala. Anak muda, festival musik yang diagung-agungkan banyak generasi sebelum kita sepertinya hanya mitos semata, tontonlah dokumenter series ini sembari banyak memanjatkan syukur bahwa kita tak perlu memiliki pengalaman traumatis seperti yang tergambar dalam tiga episode Trainwreck : 99.

(IKH/VRD)

Trainwreck: Woodstock 99, Sebuah Catatan Kelam Festival Musik Kenamaan 1
Show More

Muhammad Ikhlas

“Tentang mimpi berkecukupan, tanpa harus lembur lagi, ke Gambir lagi”
Back to top button