Album ReviewsMusicReviews

Pesan Penting Muna Lewat “About U”

Sebuah pemahaman atas album yang memerlukan pengantar.

Butuh waktu satu bulan lebih bagi saya menyelesaikan ulasan debut album trio MUNA ini. Segala upaya sudah saya kerahkan untuk memahami album berjudul About U yang rilis 3 Februari 2017. Mendadak jalannya tuts keyboard ini menjadi tersumbat.

Pesan Penting Muna Lewat “About U”
Sebuah pemahaman atas album yang memerlukan pengantar.

Sedemikian rumitkah album ini? Tidak juga. Musik MUNA digeber oleh tiga gadis; Katie Gavin (vokal), dan duo gitar Josette Maskin dan Naomi McPherson, jika hendak diklasifikasikan, saya menyebutnya sebagai pop-gelap. Gelap tidak seperti metal horor penuh kengerian. Namun musik pop(uler) dengan dominasi nada murung. Balutan electro secara teknis memang mendominasi. Tapi…

Begini, selama 2 minggu terakhir saya cukup intens mendengarkan materi album ini secara berurutan maupun acak. Sensasi yang saya rasakan ditengah keseharian adalah murung. Hidup yang terkadang terasa begitu pahit, kesendirian, perasaan terasingkan, mendadak membuncah sepanjang mendengarkan “Winterbreak”, “After”, atau “If U Love Me Now”.

Bahkan pada trek yang menurut saya memiliki beat mendingan seperti “Crying on Bathroom Floor” emosi semakin diacak-acak seenaknya. “Give me your disrespect / Give me your pain and loneliness / And I’ll love you the best / Promise I’ll love you the best”. Lirik ini seperti materi band emo yang sedang meraung. Tapi bukan.


MUNA tidak sedang bersuara tentang kesepian yang semu dan membuat jemu. Mereka melantunkan suara-suara terpinggirkan. Mereka yang secara tersiksa secara emosi karna menjadi minoritas. Oh, segala keriuhan akibat masa kampanye presiden Amerika Serikat lalu memberikan kesempatan bagi MUNA semakin bersuara.

Ketiga personil MUNA adalah queer. Melalui album “About U”, mereka tengah bersuara tentang komunitas LGBT yang terpinggirkan. Jika anda telah membaca hingga bagian ini, maka saya mengajak anda untuk memutar album “About U” dari bagian pertama, beri saya kesempatan untuk memperkuat alasan bahwa “kemurungan” yang dibawa Katie dkk itu berbeda.

“So Special” bukan berarti menjelaskan bahwa dirimu begitu spesial dan jangan berkecil hati. Bukan. Justru trek ini menampar cukup keras atas segala krisis identitas generasi saat ini. Generasi yang musti berdandan hanya demi mengunggah foto diri di sosial media misalnya. Tidak cukup jika seseorang mengungkapkan “kamu cantik” saat dirimu berbalut segala riasan.


Maka pilihan yang coba ditawarkan MUNA adalah tegak dan bersuaralah dengan lantang, karna dirimu adalah “Loudspeaker”. “You can try to make me stop, call it delusion / But every time I don’t shut up, it’s revolution”. Apa yang saya hadapi sehari-hari terasa cupu, belum ada apa-apanya dengan teman-teman yang di negara tercinta ini apalagi, tambah terjepit oleh bermacam norma kepatutan.

Lalu satu-satunya cara untuk tetap waras adalah berimajinasi. “I Know A Place” adalah lagu paling favorit saya di album ini. Ada emosi yang akhirnya terlepaskan. Di antara segala carut marut hidup, siapapun itu berhak untuk berbahagia. Bahagia sesuai dengan relevansinya masing-masing. Bahagia yang bisa saja sebatas menari di lantai dansa, melepas semua beban.

“But if you want to go out dancing
I know a place (ooh)
I know a place we can go (yeah)
Where everyone gonna lay down their weapon
Lay down their weapon
Just give me trust and watch
what’ll happen”

“I Know A Place” menjadi lagu monumental untuk mengenang penembakan sebuah klub gay di Florida pertengahan tahun 2016. Lagu ini diciptakan sebelum insiden tersebut dan memang diniatkan untuk membayangkan dunia tanpa senjata. Dimana semua lapis masyarakat bisa menerima satu sama lain.

Saya tenggelam dalam upaya untuk memahami konteks pesan dari vokal Katie yang memiliki teknik unik dalam menarik suaranya. Sementara sentuhan duo gitar Josette dan Naomi tak boleh disepelekan. Mereka telah terbiasa memainkan ska dan progresif rock, maka jangan heran dengan sepetik-duapetik yang muncul dengan elegan.

Permasalahannya dari sekian panjang konteks yang telah saya sampaikan adalah album ini murungnya sungguh gawat. Sentuhan tambahan elektropop tak mencerahkan meski terdengar selayang-dengar seperti pengantar musik lantai dansa. Jika anda mendengarkan album ini tanpa segala kisah dan konteks seperti yang saya paparkan diatas, maka kesan pertama yang didapatkan adalah kebosanan. Sulit sekali berharap anda bertahan hingga tangis di lantai kamar mandi (Crying On Bathroom Floor) seperti cerita saya sebelumnya.
(VERD)

Band: Muna
Album: About U
Rilis: 3 Februari 2017
Label: Columbia

Muna - “About U”

Band: Muna Album: About U Rilis: 3 Februari 2017 Label: Columbia

User Rating: Be the first one !
Tags
Show More

Noverdy Putra

Baperians, Meta-fetcher, pelahap segala, kecuali mantan.
Close
Close