Lucu juga. Lagu berjudul Scream And Shout justru memohon “Please don’t make me scream and shout”, lalu menutup dirinya sendiri dengan teriakan berulang-ulang. Kita tahu siapa yang kalah duluan.
Single dari album Avalanche milik Jane’s Party ini diracik dari bahan anthem stadion akhir tujuh puluhan, sekilas seperti Toto zaman Hold the Line yang sedang mampir ke rumah Billy Joel. Pianonya dipukul seperti alat perkusi, tidak dielus. Drumnya datang dalam tembakan-tembakan pendek, gitarnya menyalak padat, dan bass yang tebal menahan semuanya supaya tidak terbang. Ia terus menanjak tanpa mau mengerem, menumpuk tenaga sampai teriakan di bagian akhir terdengar seperti satu-satunya pintu keluar. Ada kegirangan yang sulit ditahan di sini, dan kepala kita sudah mengangguk-angguk sebelum sempat ditanya setuju atau tidak.
Namun di sinilah saya agak tertipu.
Di balik keriuhan itu, ia bercerita tentang perihnya meninggalkan rumah. Tokohnya terus teringat Queen St., merasa lega setiap kali pergi, lalu curiga ada jahitan yang robek di hidupnya sendiri. Rasanya mirip perantau yang pura-pura betah di tanah orang padahal diam-diam menghitung hari menuju mudik. Yang ditangisi adalah jalanan lama sekaligus versi diri yang dulu tinggal di sana dan tidak bisa dijemput lagi.
Reff yang datang tiga kali memang sedikit kebanyakan bumbu di putaran terakhir. Tapi untuk Scream And Shout, teriak-sampai-serak memang sudah jadi janjinya sejak judul. Silakan berteriak, mas-mas dari North York!
Jane’s Party Profile
Track Info & Review Summary
- Artist: Jane’s Party
- Track: Scream And Shout
- Genre: Indie Rock, Alternative Rock
- Release Date: September 25, 2026
- Label: Independent
- Rating: 3.9 / 5
- Reviewed by: ParaPop.net
Koleksi ulasan pilihan redaksi untuk memperpanjang sesi mendengarmu: ulasan Genevieve & Milo – What a Wonderful Thing berdampingan dengan arsip ulasan E.M. Kane – One Night In Dalston.



