Upaya Melupakan Format MP3

Saat era digital menerpa industri musik, format file audio MP3 menjadi kambing hitam berubahnya perilaku konsumen musik dunia. Begitu rampingnya ukuran MP3 memudahkan siapa saja untuk berbagi file. Napster menjadi pukulan telak berikutnya, dengan mendistribusikan file MP3 secara ilegal dengan kedok “berbagi”. Setelahnya kita tahu sendiri bagaimana era digital mengubah peta industri musik hingga hari.

Bermula dari layanan unduh-legal milik Apple–iTunes–hingga layanan pengaliran musik (streaming) dianggap menjadi salah satu jawaban atas era digital. Spotify, Apple Music, Soundcloud, Tidal hingga Bandcamp adalah sebagian besar nama-nama yang masih bertahan, namun yang tumbang juga tak kalah banyak. Sementara rilisan fisik seperti kaset tape, CD, hingga Vinyl kembali menggeliat setelah konsumen mulai tak puas dengan kualitas audio secara digital, atau karna alasan sederhana; ingin memiliki secara fisik.

Minggu ini kabar mengejutkan datang dari Fraunhofer Institute–salah satu pengembang format MP3 di dunia–mengumumkan secara resmi tak lagi melanjutkan pengembangan format audio MP3. Beragam reaksi bermunculan atas berita ini. Dalam rilis pers nya, lembaga riset asal Jerman tersebut mengakui kualitas format file MP3 lebih buruk jika dibandingkan dengan varian format audio digital lainnya.

“Although there are more efficient audio codecs with advanced features available today, mp3 is still very popular amongst consumers. However, most state-of-the-art media services such as streaming or TV and radio broadcasting use modern ISO-MPEG codecs such as the AAC family or in the future MPEG-H. Those can deliver more features and a higher audio quality at much lower bitrates compared to mp3.”

Sebenarnya kualitas audio format MP3 sudah cukup lama menjadi perhatian banyak pihak. Bahkan iming-iming 320kbps pun tak dapat menyelamatkan kualitas audio yang kita dengar. Simak saja video dokumenter “The Distortion of Sound” dibawah ini. Musisi, produser, sound engineer berkisah tentang menurunnya kualitas dengar file musik akibat penggemar yang kian terbiasa dengan file audio kualitas rendah. MP3 tentu salah satunya.

Kita tak bisa dengan mudah meneriakkan #RIPMP3, karna format ini sudah kadung familiar sejagat raya. Fraunhofer Institute hanya salah satu pengembang untuk codec MP3, dan satu-satunya pengembang di jalur komersial. Masih ada XING yang memang tak cukup familiar, dan LAME Encoder yang berbasis open-source.

Upaya penggiringan opini bahwa MP3 telah mati adalah hal sia-sia. Karna MP3 telah menjadi bagian dari hidup kita.
(VERD)

Noverdy Putra
Follow Verd

Noverdy Putra

Baperians, Meta-fetcher, pelahap segala, kecuali mantan.
Noverdy Putra
Follow Verd

Comments

comments