Satu bulan sudah berlalu sejak saya berkesempatan menyaksikan konser Sum 41 di Zepp @ Big Box Singapore (Liputan bisa dibaca pada tautan berikut http://creativedisc.com/2017/08/merayakan-masa-muda-dengan-sum-41-di-singapura ). Ini adalah tulisan kedua yang coba saya selesaikan, setelah tulisan pertama harus berujung drag-to-trash-bin akibat protes editor ParaPop dua minggu lalu. “Tak perlu diperbaiki, tulis ulang!” begitu isi pesan singkatnya. Saya bahkan tak sempat membalasnya dengan umpatan.

Dalam upaya penyelesaian tulisan ini, didukung cuaca lembab dengan hujan tak berkesudahan saya coba memunguti kembali kepingan dan kenangan yang terserak. Jika kita hendak berbicara tentang “kepingan” maka saya tengah merujuk pada salah satu lagu “ballad” ala Sum 41 berjudul “Pieces”. Satu-satunya ingatan yang tersisa hingga hari ini dari konser Sum 41 di negeri singa tersebut hanyalah lagu ini.

“Pieces” sempat menjadi soundtrack harian dikala saya masih berseragam sekolah. Secara kord, lagu ini cukup mudah untuk dimainkan dengan gitar dan bernyanyi bersama teman satu tongkrongan. Dm – Bb – F – C. Beres. Tembang dari album paling gelap Sum 41 berjudul “Chuck” ini sudah berusia 12 tahun sejak pertama kali rilis. Dan jika saya harus membandingkan perasaan saya saat mendengarkan lagu ini 12 tahun silam dengan perasaan saya saat menyaksikan langsung lagu ini dilantunkan oleh Sum 41 bulan lalu, sungguh ini adalah pengalaman yang paling membuat hati ini berdesir.

Malam itu di Zepp @ Big Bix Singapore saya tak membawa banyak persiapan. Saya datang, antri, dan menonton Sum 41 untuk kali pertama. Dalam prediksi saya, mereka akan lebih banyak membawakan materi dari album baru “13”. Awalnya semua berjalan sesuai dengan yang saya bayangkan. Hingga “Pieces” dibawakan Derryck dan kawan-kawan. Saat itu juga “Pieces” datang bersama kenangan, bertubrukan dan menghantam berbagai ingatan yang tersusun rapi di kepala–pecah, berderai, dan terserak.

“I tried to be perfect / But nothing was worth it / I don’t believe it makes me real / I thought it’d be easy / But no one believes me / I meant all the things I said”.

Ia tak membawa nostalgia basi masa sekolah menengah. Sebagai lagu yang sudah sangat jarang saya dengarkan, malam itu ia seperti kawan lama yang sudah jarang saya temui. Ia bertanya kabar, menanyakan bagaimana hidup memperlakukan saya hingga hari ini. It sucks!

“If you believe it’s in my soul / I’d say all the words that I know / Just to see if it would show / That I’m trying to let you know / That I’m better off on my own”

“Pieces” menyadarkan saya atas pilihan-pilihan tak berkesudahan yang kerap saya ambil di usia menjelang kepala tiga. That I’m better off on my own. Kalimat penutup ini seakan memberi jawaban atas segala tanya yang lalu-lalang dalam pikiran. Pada titik ini pula, “Pieces” seketika beranjak dari lagu yang dimainkan sekenanya sembari nongkrong, menjadi lagu paling jleb-jleb dalam konteks kehidupan saya hari ini.

“This place is so empty / My thoughts are so tempting / I don’t know how it got so bad / Sometimes it’s so crazy / That nothing can save me / But it’s the only thing that i have”

Bagian kedua dari lirik “Pieces” ini yang paling membuat saya tercekat. Hampir semua penonton malam itu turut bernyanyi. Di depan saya tampak sepasang muda-mudi, sang wanita dipagut dari belakang oleh lelakinya. Saya coba alihkan pandangan ke arah yang lain, tampak gadis belia seorang diri yang entah bingung entah kegirangan sepanjang konser. Saya? Seorang diri. Mendadak saya merasakan sepi yang sesungguhnya. Di gelanggang konser saya sibuk merutuki diri. Menyesal tak sempat membeli segelas bir dingin sebelum masuk ke area depan panggung, namun cukup malas untuk keluar kembali.

Maka disitulah saya, ditengah-tengah kerumunan penonton lintas bangsa. Meski hidup telah meleburkan ingatan dan kenangan–luluh lantak, tandas, tak bersisa–“Pieces” mencoba untuk kembali menguatkan saya.

Maka disitulah saya, ditengah-tengah kerumunan penonton lintas bangsa. Meski hidup telah meleburkan ingatan dan kenangan–luluh lantak, tandas, tak bersisa–“Pieces” mencoba untuk kembali menguatkan saya. Ia sungguh menjelma seperti kawan karib yang telah terpisah jarak dan waktu. Kawan karib yang kini hanya bertemu via layar aplikasi grup chat. Kawan karib yang tengah bersungut-sungut cemas menanti kelahiran anak pertama. Kawan karib yang dituduh kawan lain hidupnya gini-gini aja.

“I tried to be perfect / It just wasn’t worth it / Nothing could ever be so wrong / It’s hard to believe me / It never gets easy / I guess I knew that all along”

Akhirnya malam itu berakhir, dan saya masih sendiri (tentunya), namun setidaknya “kepingan” dari Sum 41 telah berhasil menyelaraskan masa lalu dan hari ini. Dahulu yang masih muda-belia-bahagia dan hari ini yang sepertinya kian carut-marut saja rasanya. Tapi saya baik-baik saja. Semoga saja.

 

* Terimakasih kepada Creativedisc.com & Hopeless Records.
** Foto oleh Aloysius Lim (Twitter/IG): @aloysiuslim, web: aloysiuslim.com
(VERD/KCK)

Comments

comments