Mengkhidmati Jahit Ulang “Carrie & Lowell” Versi Live Oleh Sufjan Stevens.

Puji syukur, akhirnya saya memiliki alasan untuk membahas album tentang “Carrie & Lowell” Sufjan Stevens.

Mengingat deretan album rilisan tahun 2015, maka “Carrie & Lowell” tak boleh dilupakan. Album ketujuh milik Sufjan Stevens ini mendapat pujian dimana-mana, hingga disebut sebagai salah satu album terbaik sepanjang karir Stevens.

Judul album “Carrie & Lowell” diambil dari nama ibu kandung dan ayah tiri Sufjan Stevens. Album super-sedih penuh refleksi ini berkisah tentang perasaan kehilangan, patah hati, dan kasih sayang. Terinspirasi dari hubungan Stevens dengan ibunya yang bermasalah. Stevens dan ibunya baru dekat kembali beberapa waktu sebelum akhirnya Carrie meninggal di tahun 2012.

Saat berulang kali mendengarkan album ini dua tahun silam, saya memberi predikat “transendental” pada album ini. Ada ketenangan dan kesenduan “ilahiah” secara sesaat yang saya rasakan. Penyampaian pesan pada “Carrie & Lowell” mendekati sempurna. Stevens kembali pada akar folk, beberapa lagu hanya diiringi gitar, atau hanya dentingan piano.
Sufjan Stevens melalui karya-karyanya dikenal sebagai seorang musisi yang ganjil. Ia kerap berganti konsep pada album-album sebelumnya dan hampir selalu dipenuhi bebunyian elektronis.

28 April 2017, ia merilis ulang “Carrie & Lowell” dalam versi live. Bekerja sama dengan “We Are Films”, selain dalam versi audio, rilis ulang ini juga disertai video penuh sepanjang pertunjukannya. Mengambil tempat di North Charleston Performing Arts Center, dan direkam pada 9 November 2015, Stevens menjahit ulang “Carrie & Lowell”.

Jika sebelumnya saya bercerita album ini begitu meninggalkan kesan dua tahun lalu saat pertama kali rilis. Namun “Carrie & Lowell Live” berupaya memberikan pengalaman baru. Anda tentu setuju, ketika telah berulang kali mendengarkan sebuah album sepanjang tahun, maka akan tiba suatu titik album tersebut tersingkir dari daftar lagu, tergantikan dengan album-album lainnya yang terus berdatangan. Nah, dengan menjahit ulang “Carrie & Lowell”, Stevens berupaya mengajak saya maupun anda untuk kembali mendengarkan dalam persepsi yang berbeda.

Dalam hal ini saya, maupun kita semua yang berada di belahan bumi berbeda dengan Stevens, dan belum memiliki kesempatan untuk menyaksikan penampilan Sufjan Stevens secara langsung, akan memiliki pengalaman berbeda secara visual saat menyaksikan video penuh “Carrie & Lowell Live” yang dibagikan secara gratis melalui laman Youtube. (Anda bisa menyaksikan dihalaman ini, video telah kami sematkan pada bagian pembuka)

Dengan sinematografi ala-ala psikedelik, menonton “Carrie & Lowell Live” sepanjang satu setengah jam, tidak mengantarkan kita pada kebosanan. Meski disepanjang set, tak ada interaksi antara Stevens dan penonton. Praktis hanya tepukan tangan penonton menyambut Stevens dan rekan-rekannya di atas panggung yang tampak begitu khidmat beberapa kali berganti instrumen.

Set “Carrie & Lowell Live” tidak jauh berbeda dengan versi albumnya. Beberapa penambahan muncul, beberapa improvisasi tampak memberikan persepsi yang berbeda. Stevens tak terdengar begitu gelap dan kesepian seperti pada versi album. Penggunaan instrumen yang beragam adalah salah satu penyebab hal tersebut. Aransemen beberapa lagu, seperti “I Should’ve Know Better” dan “All of Me Wants All of You” misalnya, terdengar lebih cerah. Murung hanya sebagai pembuka, namun ada semangat dan harapan dibagian akhir. Tetapi juga ada lagu yang semakin emosional, seperti “Fourth of July” dengan repetisi bagian lirik “we’re all gonna die.. we’re all gonna die..”.

Di sepanjang konser tampak visual pada bagian latar panggung, video rekaman keluarga Stevens berganti dengan varian cahaya. Hal ini menambah magis lagu “Carrie & Lowell” itu sendiri di bagian tengah pertunjukan.

Secara keseluruhan, “Carrie & Lowell Live” adalah upaya jahit ulang yang baik dari Sufjan Stevens. Ia membawa kisah “Carrie & Lowell” pada tingkat yang lebih tinggi. Dengan aransemen yang lebih kompleks dari versi album, sentuhan elektronis, hingga kesempatan kita untuk menikmati secara visual, menambah pengalaman atas album itu sendiri.

Penampilan Sufjan Stevens pada konser ini juga dilengkapi dengan musisi-musisi handal berkemampuan lebih. Perhatikan saja, beberapa diantaranya berganti instrumen ditiap lagu. Mereka adalah musisi dengan kesiapan seperti PNS–siap ditempatkan dimana saja. Saya tidak akan menceritakan aparatur pengiring Stevens ini satu persatu, saya hanya akan titipkan satu nama. Dawn Landes, satu-satunya wanita di atas panggung.

Saya bisa saja dengan mudah memberikan nilai sempurna pada album ini, namun trek penutup yang merupakan cover hits milik Drake, “Hotline Bling” entah kenapa merusak sensasi khidmat sepanjang konser. Mungkin Stevens tak ingin penonton termenung buruk setelah menonton sepanjang set. Mungkin Stevens ingin bercanda. Mungkin Sufjan Stevens memang memiliki selera yang ganjil. Seriously? Hotline Bling?

Comments

comments