Setelah ditahun 1994, kritikus musik Simon Reynolds menggunakan terminologi “post-rock”, genre musik ini kian berkembang hingga saat ini. Tidak hanya di belahan bumi sana, di negara kita tercinta, Indonesia, beberapa band beraliran post-rock juga bermunculan dan menuai sukses.

Sempat pula terjadi ketegangan di lini masa ketika beberapa orang beranggapan bahwa musik post-rock tidak dapat dinikmati, dan mereka yang mengimani genre ini sebagai penggemar hanya mengejar prestise semata, atau singkatnya “biar keren aja..”. Selain itu penggemar post-rock juga dianggap terlalu tinggi hati dan menganggap genre musik mereka nan paling paripurna. Yup, fucking exclusive bastard!

Dinamika seperti ini adalah hal yang biasa. Tak perlu disikapi dengan gerakan anti-post-rock atau demo hingga ke istana negara.

Fearless. : The Making of Post-Rock, Sebuah upaya memahami Post-Rock.
Hidup yang tidak diperiksa ulang, tidak pantas untuk dijalani, ujar Socrates. Tampaknya Jeanette Leech sepaham dengan itu. Lewat buku terbarunya, Leech berupaya untuk memeriksa ulang keimanan pemuja post-rock.

Nah, guna memberikan jalan tengah bagi semua. Sebuah buku yang ditulis Jeanette Leech berjudul Fearless. : The Making of Post-Rock berupaya mengulas bagaimana subgenre ini mulai berkembang dimasa awalnya. Buku setebal 392 halaman ini dilepas ke pasaran pada 30 Mei 2017 lewat penerbit Jawbone Press.

Ada banyak wawancara dengan dedengkot-dedengkot post-rock zaman awal, yang saya sendiri tak begitu akrab dengan namanya. Godspeed You! Black Emperor, Tortoise, Stereolab, AR Kane, Disco Inferno, Fridge, Codeine, Slint, Talk Talk, hingga Mogwai adalah beberapa nama tersebut. Tenang, bagi saya yang juga pendengar post-rock era kekinian dan juga mungkin anda, ada nama Sigur Ros dalam daftar interview panjang buku ini.

Pada rilis pers yang disebarkan, Jeanette Leech yang juga penulis buku “Seasons They Change” (sebuah buku tentang sejarah musik acid dan rock psikedelik) menyebut buku Fearless. : The Making of Post-Rock: “explores how the strands of post-rock entwined, frayed, and created one of the most diverse bodies of music ever to huddle under one name,”.

Dengan sampul buku yang dirancang oleh Graham Sutton, personil band Bark Psychosis, salah satu ikon band post-rock zaman pra-millenial, Fearless. : The Making of Post-Rock seharusnya menjadi salah satu kejaran kita bersama yang ingin tahu lebih dalam soal genre musik ini. Sebuah upaya agar tak dicap hipster-kurang-hiburan.

Pilihannya, anda bisa saja menunggu buku ini terpajang di rak toko buku impor berpendingin-ruangan, atau bisa coba kontak pelapak buku impor kesayangan anda di tanah Instagram.
(VERD)

Noverdy Putra
Follow Verd

Noverdy Putra

Baperians, Meta-fetcher, pelahap segala, kecuali mantan.
Noverdy Putra
Follow Verd

Comments

comments