Jepang boleh saja menepuk dada kalau bicara soal kualitas denim terbaik dunia. Namun pencapaian tersebut tidak akan ada artinya tanpa Zimbabwe. Iya, Zimbabwe yang marwah negaranya nyaris hancur berantakan dalam beberapa tahun terakhir. Tak perlu analisis ekonomi yang mendalam untuk paham betapa beratnya beban Zimbabwe untuk tetap diakui sebagai negara. Tercatat sejak Januari 2016 lalu, setidaknya ada empat mata uang negara lain yang menjadi alat tukar resmi di Zimbabwe. Dollar-Amerika Serikat, Poundsterling-Inggris, Rand-Afrika Selatan, dan Yuan-China. Lalu bagaimana dengan mata uang Zimbabwe sendiri?. Mungkin sudah punah, karena pada pertengahan 2015 lalu 100 miliar dollar Zimbabwe hanya cukup untuk membeli 3 butir telur ayam!. Suram.

Dalam relasi Jepang-Zimbabwe di bawah naungan denim ini, sebenarnya Jepang hanya kebagian yang ringan-ringan saja, mengolah kain katun menjadi denim yang siap dilego dengan harga jutaan. Sementara itu, Zimbabwe harus bekerja dalam sunyi. Memilah serat kapas terbaik untuk dipintal menjadi benang, lalu menenunnya menjadi kain katun kualitas kelas wahid. Begitulah nasib negara dunia ketiga, hanya kebagian pekerjaan, tak pernah mendapat pengakuan. Hubungan Jepang dan Zimbabwe ini setidaknya mampu mengubak sekelumit kisah pilu soal denim.

Zimbabwe harus bekerja dalam sunyi. Memilah serat kapas terbaik untuk dipintal menjadi benang,
Zimbabwe harus bekerja dalam sunyi. Memilah serat kapas terbaik untuk dipintal menjadi benang,

Tanpa mengurangi rasa hormat pada Zimbabwe, sebenarnya yang lebih menarik adalah rangkaian inovasi dalam sejarah denim itu sendiri. Salah satu tonggak sejarah inovasi denim dipancangkan oleh Levi Strauss dan Jacob Davis lewat merek Levi Strauss & Co di Amerika Serikat pada tahun 1873. Duo maut ini mengolah denim menjadi celana jeans yang dikenal hingga saat ini. Pelanggan utamanya adalah para pekerja tambang emas, mengingat era tersebut dikenal dengan Californian Gold Rush dimana penambangan emas marak di seantero California. Dunia tambang-menambang yang keras tersebut membuat para pekerja ini membutuhkan celana yang kuat dan fungsional untuk aktivitas mereka.

Lewat kolaborasi apik Strauss dan Jacob ini, lahirlah dua inovasi brilian yang mampu menjawab kebutuhan konsumen dan tantangan zaman kala itu. Inovasi pertama adalah penggunaan rivet atau paku keling disetiap persimpangan jahitan dan ujung kantong celana jeans. Tujuannya sederhana, untuk memperkuat jahitan celana jeans sehingga tidak mudah sobek. Sementara inovasi kedua adalah penambahan kantong kecil dibagian saku sebelah kanan. Tak kalah sederhana, tujuannya untuk memudahkan para penambang menyimpan butiran emas yang didapat. Maka, tak ada lagi alasan bagi para pekerja tambang emas untuk tidak jatuh hati Levi Strauss & Co. Apa yang kau minta, aku penuhi!, begitulah kira-kira taglinenya.

BUMI ITU BULAT, DENIM ITU BIRU

Inovasi denim selanjutnya meloncat pada era 80-90an, adalah Francois Giroud seorang denim guru asal Perancis yang dikenal dengan konsep denim ramah lingkungan. Beliau berhasil merubah cara pandang pelaku industri denim untuk tidak lagi memakai banyak air dalam proses washing, sehingga limbah industri dapat diminimalisir. Kombinasi antara teknologi laser dengan udara menghasilkan washed denim yang detail dengan waktu pengerjaan yang lebih efisien dan mampu menghemat air hingga 70% dari cara konvensional yang selama ini banyak dipraktikkan oleh pabrikan denim. Konsep ramah lingkungan ini kemudian dikembangkan oleh Nudie, merek denim kenamaan asal Swedia. Lewat organik denimnya, Nudie berhasil mencuri perhatian dunia dengan bahan denim yang dapat didaur ulang. Inovasi ini sangat populer sejak tahun 2006 lalu, sejalan dengan gaung pemanasan global kencang dikampanyekan kala itu.

Jepang juga turut menyumbang inovasi dalam sejarah denim dunia. Lewat Momotaro jeans, merek denim asal kota Okayama ini mempunyai filosofi yang menggabungkan antara teknologi modern dan tradisi craftsmanship Jepang. Salah satu spesialisasi Momotaro jeans adalah teknik handmade denim, mulai dari proses pemintalan dan pewarnaan benang katun dikerjakan dengan tangan. Proses pewarnaan denim menggunakan pewarna natural dari tumbuhan indigo yang dikerjakan oleh artisan. Inilah yang membuat denim produksi Momotaro jeans memiliki warna indigo yang tidak akan dimiliki oleh merek lain.

New arrivals! 🔥 3×1.us/men

Sebuah kiriman dibagikan oleh 3×1 (@3×1) pada

Rangkaian inovasi tersebut akhirnya membuat denim menjadi salah satu produk esensial yang paling sering kita gunakan, selain simple, denim sangat mudah untuk dipadu-padankan dengan jenis pakaian lain. Pilihan modelnya pun beragam, mulai dari overall jeans yang populer era 1880an-1920an, straight jeans yang populer pada era 30-50an, cutbray yang dipopulerkan oleh kaum hippie pada era 70an, high waisted jeans yang populer diera 80an, dan regular loose yang sangat digandrungi oleh pencinta hip-hop pada tahun 90an. Sekarang pilihan modelnya jadi lebih beragam, mulai dari skinny, tight, tapper, slim fit, dan boyfriend, untuk model terakhir ini lebih banyak digemari oleh perempuan.

 Pilihan modelnya pun beragam, mulai dari overall jeans yang populer era 1880an-1920an, straight jeans yang populer pada era 30-50an,
Pilihan modelnya pun beragam, mulai dari overall jeans yang populer era 1880an-1920an, straight jeans yang populer pada era 30-50an,

Seiring dengan hadirnya beragam pilihan model tersebut, bermunculan pula merek kesekarangan yang turut bersaing memperebutkan konsumen yang selama ini hanya dikuasai oleh merek-merek besar macam Levi’s, Lee, Wrangler, Diesel, Citizen of Humanity, True Religion, Edwin dan Evisu. Di antara merek yang mampu merebut hati pencinta denim saat ini adalah, 3×1, APC, J-crew, Raleigh denim, Denham, Naked and Famous, Tellason, Sugar Cane, Iron Heart, Dry bones, Momotaro, Kapital dan merek-merek lainnya.
Semakin banyaknya pemain dalam dunia denim ini, membuat persaingan semakin kompetitif. Inovasi dan pengemasan produk menjadi esensi yang diperhitungkan oleh konsumen. Karena itu tidak heran banyak konsumen di negara maju sangat mengapresiasi suatu produk denim yang heritage, slow made, handmade, ataupun yang mengusung konsep DIY-fashion. Para denim mania ini cenderung melihat sebuah produk yang akan digunakan sebagai sesuatu yang bersifat personal bagi mereka.

Tidak hanya memperhatikan nama besar suatu merek, namun bagaimana merek tersebut menyajikan dan memperkenalkan produknya turut menjadi perhatian. Mereka ingin tahu bagaimana proses produksi dan bahan apa saja yang digunakan. Mereka juga memberikan apresiasi jika merek tersebut mengusung konsep ramah lingkungan dalam proses produksinya.

Sebelum terlalu jauh, secangkir cappuccino rasanya tidak akan cukup untuk membincangkan soal denim hari-hari ini. Karena denim mempunyai karakteristik dan keunikan tertentu, setiap bahan denim mempunyai ciri khas masing-masing. Layaknya kopi, berbeda dataran maka rasa kopi yang dihasilkanpun akan berbeda. Namun yang paling penting, soal denim boleh berbeda, perihal kopi boleh tak sama, tapi bumi hanya satu, bulat. Itu sudah!.

If you wear denim, let them tears with your journey!

(WLS/KCK)

Ikhwan Nurhadi
Follow Me

Ikhwan Nurhadi

Ketika felix baumgartner mendarat dibumi setelah terjun bebas dr atmosfer, semua terhenyak dan berkaca.. Siapa saya?
Ikhwan Nurhadi
Follow Me

Latest posts by Ikhwan Nurhadi (see all)

Comments

comments