10 Album yang Terlewatkan di Tahun 2016

Izinkan kami membayar hutang tugas kami sepanjang tahun 2016 lalu dengan membuat daftar ini.

Izinkan kami membayar hutang tugas kami sepanjang tahun 2016 lalu dengan membuat daftar ini.

Pilihan dasar kami adalah album-album ini tak mendapatkan sorotan di media lokal (Indonesia).

Kenapa hanya sepuluh? Kami tak punya jawaban saintifik untuk hal itu. Bisa saja ini hanya sepuluh bagian pertama, atau malah hanya sebegini adanya.

Sebuah daftar suka-suka, anda pun bisa ikut menambahkan daftar (melalui kolom komentar) jika kami kembali melewatkan sesuatu.

 

10 Album yang Terlewatkan di Tahun 2016
Izinkan kami membayar hutang tugas kami sepanjang tahun 2016 lalu dengan membuat daftar ini.

(Catatan: album ini kami urut berdasar tanggal perilisan)

 

1. Washed Away / Rooney

Washed Away / Rooney
Label : Beachwood Park
Tanggal rilis : 6 Mei 2016

Jika anda membenci klub sepakbola Manchester United anda tak harus membenci band ini.

Jejak terakhir band asal California yang meraih kesuksesan saat muncul di serial “The O.C.” tahun 2004 ini nyaris hilang setelah rilis album “Eureka” di tahun 2010. Frontman Robert Schwartzman mengambil keputusan untuk bongkar pasang personil dalam pengerjaan “Washed Away”. Beliau pun memainkan beragam instrumen dalam rekaman album ini. Ciri khas power pop Rooney kembali terdengar pada lagu “My Heart Beats 4 U”, “Come on Baby”, dan “Why” yang dinyanyikan bersama Soko.

2.  
Wildflower / The Avalanches

Wildflower / The Avalanches
Label : Modular Recordings
Tanggal rilis : 8 Juli 2016

Jika anda tak pernah suka gemerlap dunia hiphop. Coba yang satu ini.

Butuh 16 tahun bagi grup elektronik The Avalanches untuk kembali dengan album “Wildflower”. Grup asal Australia ini hanya menyisakan dua personil semenjak terbentuk di tahun 1997. Kendati hanya memiliki dua album sepanjang karir mereka, The Avalanches selalu berhasil menarik perhatian kritikus. Saya pribadi kepincut dengan orkestrasi yang mereka gunakan serta berbagai “tempelan” obrolan, suara gelak tawa, dan berbagai pernak pernik lainnya. Penggunaan metode plunderphonics adalah salah satu kekuatan utama The Avalanches. Pada “Wildflower” hiphop seolah dibawa sedemikian renyah tanpa mecin!

 

3. I’m Alone, No You’re Not / Joseph

I’m Alone, No You’re Not / Joseph
Label : ATO Records
Tanggal rilis : 26 Agustus 2016

Jika anda terlalu sering ditinggal nikah oleh pasangan, mantan, atau selingkuhan anda.

“This song brought me to feeling that i can’t described, like only I and that song existed”
Demikian pendapat seseorang saat saya mengirimkan “Honest” milik trio satu famili “Joseph”. Harmonisasi vokal duo kembar ditambah ketegasan suara kakak sepupu mereka menjadi kekuatan trio biduan ini. Yup, Joseph diambil dari nama kota kampung halaman mereka sebagai judul album debut mereka. “Canyon” yang membara, “SOS (Overboard)” pilihan sendu kedua, “Blood & Tears” dan “White Flag” adalah tembang apik lainnya.

Lha, terus deskripsi singkat di atas maksudnya gimana? Putar ulang “Honest” 15 kali sehari, mblo!

4.  
How To Be A Human Being / Glass Animals

How To Be A Human Being / Glass Animals
Label : Harvest Records
Tanggal rilis : 26 Agustus 2016

Jika anda akan menonton Laneway Festival Singapore 2017 beberapa hari lagi.

Glass Animals memulai debut album merilis “Zaba” yang begitu kental sound elektronis. Apakah mereka akan mengulang formula yang sama pada “How To Be A Human Being?” Tentu tidak. Band asal Oxford ini malah semakin eksentrik pada lagu seperti “Season 2 Episode 3”. Ada eksplorasi kebaruan yang coba dilakukan Glass Animals. Gitar melodius ala band merah-panas-lada-merica pada “Poplar St”. Dan tentu anda tak boleh melewatkan “Youth”. Sebuah album campur aduk kematangan.

 

5. My Women / Angel Olsen

My Women / Angel Olsen
Label : Jagjaguwar
Tanggal rilis : 2 September 2016

Jika anda membayangkan Feist sedang malas-malasan.

Setelah meraih kesuksesan pada debut album di tahun 2014. Angel Olsen melarang publisisnya untuk menerima segala sesi foto yang akan melibatkan dirinya berdiri di depan pohon. Ia tak mau lagi dicap sebagai penyanyi country yang sedemikian murung. Foto seorang diri dengan latar pepohonan hanya akan memperburuk hal itu. Pada “My Women” Olsen melabrak semua asumsi yang ada. Ia bertingkah nakal pada “Shut Up Kiss Me” dan malas-malasan dibagian lainnya. Vokal sengau Olsen diiringi dengan suara gitar yang dominan. Hey! Bangunkan Feist!

6.  
ArtScience / Robert Glasper Experiment

ArtScience / Robert Glasper Experiment
Label : Blue Note Records
Tanggal rilis : 16 September 2016

Jika anda menyukai jazz namun kadung kecanduan bebunyian elektronik.

Saya tertarik pertama kali dengan judul album dan artwork-nya. “ArtScience” terdengar begitu rumit pada lagu pembuka, namun setelah itu segalanya terasa mudah. Sentuhan elektronis pada vokal saya rasa menambah kesan magis. Sebut saja saya snob, tapi Robert Glasper Experiment membawa saya pada pengalaman berbeda mendengarkan musik dengan label jazz. Sudah segitu saja.

7.  
Ship of fools / Elephant Stone

Ship of fools / Elephant Stone
Label : Elephants On Parade
Tanggal rilis : 16 September 2016

Jika anda tak sengaja mengkonsumsi martabak telur yang telah dicampur jamur ajaib.

Ada sentuhan mengawang-awang yang dibuat oleh Rishi Dhir dan kompatriotnya di album “Ship of fools”. Kendati mereka menyebut diri sebagai grup bollywood/tollywood asal Montreal, Kanada, memilih album Elephant Stone ini bukan karna rating siaran India yang semakin ramai di TV nasional. Mereka malah cukup menendang dengan rock penuh di “The Devil’s Shelter” dan sedemikian blues di “Manipulator”. Album Elephant Stone ini masih dikuasai lagu-lagu bertempo sedang dengan instrumen asal negeri Shah Rukh Kan.

8.  
Smoke Fire Hope Desire / Harts

Smoke Fire Hope Desire / Harts
Label : Dew Process
Tanggal rilis : 16 September 2016

Jika anda pernah membayangkan Justin Timberlake mahir bermain gitar.

Mendiang Prince pernah menyanjung penyanyi sekaligus multi-instrumentalis Darren Hart atau Harts “He reminds me of me at that age.”. Terdengar demikian hiperbola, namun pada album “Smoke Fire Hope Desire” pria asal Melbourne (Australia) ini berhasil membuktikan diri. Harts mencoba tak hanya bermain pada genre electro-funk. “Fear in Me”, “All Rise” dan “Power” menunjukkan bahwa ia mampu bermain garang dengan gitarnya.

9.  
Wanderlust / Gemini

Wanderlust / Gemini
Label : Tree Of Life
Tanggal rilis : 21 September 2016

Jika anda muak mendengar jedag-jedug hasil olahan ulang makhluk bumi.

Saya rasa tidak akan pernah menemukan album EDM dengan kekuatan seperti “Wanderlust”. Ada upaya pencarian tentang makna hidup baik secara lirik maupun secara musik. Segala beban hidup, tagihan-cicilan-dan-prikitil sejenak mampu hilang di pundak. Mendadak saya seperti hendak berkemas, melakukan perjalanan seorang diri. Karna untuk menyelesaikan album ini, pria bernama asli Thomas Slinger ini meninggalkan Inggris dan melakukan perjalanan berkeliling dunia (khususnya Asia). Ada dentuman optimisme, dan lantai dansa terasa sedemikian klise. “Time to Share”, “Wild & Free”, dan “Do It For Love” seperti meminta kita untuk membawanya ke puncak gunung. Mendengarkannya sembari merentangkan harapan.

10.  
Writing of Blues and Yellows / Billie Marten

Writing of Blues and Yellows / Billie Marten
Label : Sony Music UK
Tanggal rilis : 23 September 2016

Jika anda percaya bahwa murung itu sedemikian indah.

Tariklah napas panjang saat “La Lune” mengalun membuka “Writing of Blues and Yellows”. Kisah-kisah yang coba anda lupakan seperti merayap kembali dalam pikiran. Saya membungkus album ini segera setelahnya. Dan saya murung semurung-murungnya.
Musik dan vokal tipikal Billie Marten ini seperti mudah sekali kita temukan saat ini. Ada yang sensasional di laman youtube, tapi anda dapat sepakat bahwa pendekatan emosional tentu dilakukan dengan baik oleh Billie pada album ini. Saya harap anda tak menangysss.

Comments

comments